Disable Preloader

Berita

21 Januari 2021

Bincang Sains dengan Peneliti Drone

Serpong, Humas LIPI. Dalam acara Podme.id ‘Me vs Sains’ dipandu oleh Ana Chusdarmawan, Peneliti Edi Kurniawan berbincang seru mengenai teknologi drone (pesawat nirawak) dan artificial intelligence/AI (kecerdasan buatan). Melalui acara kolaborasi Podme.id dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini, istilah teknologi yang sulit dapat dengan mudah dipahami oleh para pecinta sains.

Sebagai pembuka, peneliti bidang Teknik Elektro ini menceritakan bahwa dirinya mendalami Teknik Kontrol. “Di sekitar kita banyak aplikasi dengan kontrol, seperti robotika, drone, atau pun mesin industri, alat-alat tersebut bisa dikendalikan dengan teknik tertentu dengan teknik yang andal,” ungkapnya. “Kalau kita lihat di industri ada alat atau lengan robot yang bisa memindahkan barang dari titik A ke titik B, robot itu yang sudah diberi kontrol secara presisi,” tambahnya.

Tentang IoT (internet of things), Ana menanyakan apakah termasuk dari sistem kontrol. Edi menjelaskan bahwa Sistem Kontrol merupakan satu bagian dari satuan sistem kontrol. “Contohnya kita manusia adalah sebagai sistem kontrol, otak sebagai pengendali, sementara mata, tangan, dan penciuman itu sebagai bentuk sensor yang dapat memberikan umpan balik, maka IoT bisa bagian dari sistem kontrol itu,” terang sarjana Universitas Gadjah Mada ini.

“Bagaimana kita membayangkan jika di masa depan semua bisa dikontrol?” tanya penyiar Podme. “Sekarang beberapa hal bisa dikontrol dari jarak jauh, bisa lintas benua, karena instruksinya dari internet, misalnya seperti pasang CCTV, kita tetap bisa cek dari luar,” jelas Peneliti Optoelektronika dan Sistem Kontrol ini.

Mengenai ada kemungkinan sistem seperti itu disalahgunakan orang, menurut Edi dalam industri 4.0 ada istilah cyber security (kemananan siber). “Aspek teknologi seperti IoT atau AI yang akan mengubah hidup kita ke depan, salah satu pilarnya adalah regulasi cyber security untuk menghindari hal semacam itu,” terangnya.

Ana yang antusias terhadap sains kembali menanyakan tentang drone. “Drone saat ini menjadi alat untuk video photography, delivery, dan kemarin juga ada yang dijadikan konfigurasi seperti kembang api, bagaimana mengatur ribuan drone jadi konfigurasi cantik seperti itu?” tanyanya.

Edi menjabarkan bahwa drone dapat dijadikan formasi yang diinginkan. “Istilahnya drone swarm, sejumlah drone yang bisa membentuk formasi, dikendalikan suatu ground control,” jelasnya. “Jadi drone A terbang di ketinggian berapa, rute terbangnya seperti apa, begitu juga yang B, hingga seterusnya, memungkinkan dengan algoritma yang presisi,” imbuhnya.

Drone juga memungkinkan untuk menjadi alat pengangkut manusia. Beberapa prototipe sudah ada untuk menjadi pengangkut. “Secara teknologi drone sama, hanya misalnya baling-baling lebih besar karena untuk beban yang lebih berat,” kata alumnus magister Adelaide University. “Saat ini mungkin tidak terbayang kalau orang berseliweran di udara, karena hal itu kembali ke regulasi apakah bisa diaplikasikan,” jelasnya.

“Tenaga kerja manusia untuk delivery mungkin suatu saat bisa tergantikan oleh drone, jika drone bisa lebih murah,” ungkap Penyiar Ana. “Kalau saya lihat dari segi positifnya itu bisa jadi potensi juga, mungkin nanti ada peluang baru pekerjaan pilot drone, ada sertifikasinya, walaupun tipe drone otonom tetap perlu pilot juga,” balas Edi berkomentar.

Dalam dua tahun ini Edi spesialisasi risetnya fokus untuk mengendalikan drone otonom. “Bagaimana drone itu dapat terbang secara otonom tanpa kontrol, namun hanya dengan perintah. Drone otonom itu diberi perintah bisa lewat lokasi GPS,” ungkapnya. Bagaimana dengan ketepatan GPS (global positioning system)? “Bisa tergantung kalau GPS komersial lebih presisi lokasinya, kalau di HP mungkin ada melesetnya,” terangnya.

“Tentang AI, saya sebagai orang awam tahu istilah artificial intelligence, AI itu apa dan saat ini sejauh mana?” lanjut Ana bertanya. “Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita sudah banyak menggunakannya, misal pada aplikasi Siri ada fitur AI, jadi bisa mengenali suara dan bisa merespons. Kalau aplikasi lain misalnya untuk mengenali plat mobil lewat CCTV di jalan, sehingga plat bisa mudah dikenali,” jawab Peneliti Fisika ini.

“AI itu adalah jaringan syaraf tiruan, jadi seperti meniru jaringan syaraf yang kita miliki, ada neuron yang saling terhubung. Jadi ada tahapan training sehingga jaringan tersebut belajar dan memberikan output sesuai yang kita ajarkan, seperti pelatihan mengenali obyek, seperti audio dan visual gambar atau video, atau pun bentuk lain seperti gas, aroma atau bau,” jelas doktor dari Swinburne University. (adl)