Disable Preloader

Berita

16 Oktober 2018

Bisakah Memprediksi Gempa Bumi ?

Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas tektonik sangat tinggi. Aktivitas tektonik yang tinggi dicirikan dengan terdapatnya deretan gunung api dan kejadian-kejadian gempa bumi.

Di tahun 2018 terdapat dua gempa besar yang menimbulkan kehilangan nyawa dan kerugian material, yaitu 5 Agustus Gempa Lombok (Mw 6.9) dan 28 September Gempa Sulawesi (Mw 7.5).

Kejadian gempa yang terjadi diakibatkan karena pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Indonesia (berada pada lempeng mikro Sunda) dikelilingi oleh lempeng-lempeng Indo-Australia di Selatan, lempeng Burma dan Eurasia di Utara, dan lempeng Filipina di Timur. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut yang menyebabkan proses subduksi dan timbulnya patahan-patahan yang menjadi penyebab timbulnya gempa di Indonesia.

(Diman dkk, 2015)

Dalam periode 50 tahun terakhir, para seismologis melakukan penelitian secara ekstensif untuk mengetahui kemungkinan melakukan prediksi kejadian gempa. 

Dalam terminologi seismologi, prediksi kejadian gempa bisa dibagi atau diklasifikasikan menjadi prediksi jangka pendek (~harian), menengah (~tahunan), dan panjang (> 10 tahun).

Pada prediksi jangka pendek, biasanya para peneliti tertarik untuk mengetahui kemungkinan kejadian gempa dalam hitungan hari. Pada prediksi jarak menengah, informasi yang diharapkan didapatkan adalah mengenai identifikasi pola kejadian perulangan gempa dari sisi besar kecilnya kejadian gempa, waktu dan lokasi gempa. Sementara pada jangka waktu panjang, informasi dari prediksi gempa adalah informasi mengenai kemungkinan apakah suatu patahan bisa menimbulkan kejadian gempa secara berkala. Salah satu hal penting dalam studi kegempaan adalah monitoring suatu daerah dengan aktivitas tektonik yang tinggi.

Monitoring untuk kejadian gempa dapat dilakukan dengan pengamatan pada bidang seismologi, geodetik, geolectrik dan geomagnet.

Salah satu pengamatan yang menjadi fokus pada monitoring dan studi mengenai prediksi gempa adalah seismic precursors. Pada seismic precursors, parameter yang sering diamati adalah meningkatnya pelepasan energi/moment (kenaikan aktivitas gempa-gempa kecil dari biasanya) ataupun seismic quiescence (berkurang aktivitas gempa-gempa kecil dari biasanya) pada jangka waktu atau periode tertentu di sekitar area kejadian gempa. Kejadian gempa-gempa kecil biasanya disebut sebagai foreshock. Untuk kejadian gempa utama disebut sebagai mainshock, dan kejadian-kejadian gempa lebih kecil setelah gempa utama biasanya disebut sebagai aftershock. Akan tetapi, sangat sulit untuk mengidentifikasi suatu kejadian gempa sebagai foreshock jika ingin melakukan prediksi suatu gempa yang akan datang. Kita bisa menganalisa suatu cluster kejadian gempa sebagai suatu foreshock setelah kejadian gempa utama (mainshock).  Walaupun riset mengenai prediksi gempa telah berjalan cukup lama, prediksi secara pasti akan kejadian gempa masih belum dapat dikatakan berhasil.

Gempa merupakan suatu proses yang sangat kompleks yang terjadi di kerak bumi. Besaran dan waktu dari gempa bergantung pada bermacam-maca faktor misalnya besar/luasan patahan dan akumulasi dari stress yang ada di zona tersebut. Pengukuran stress secara in-situ sendiri akan membutuhkan pemboran pada kedelaman beberapa kilometer, dan sampai saat ini belum diketahui berapa besaran stress yang terakumulasi yang bisa menyebabkan gempa. Hanya saja, jika stress yang terakumulasi ini sudah melewati ambang batas (yang belum diketahui) maka kejadian gempa kecil bisa meng-trigger kejadian gempa yang lebih besar. Di Indonesia, gempa adalah suatu hal yang pasti akan terjadi baik dengan magnitudo besar ataupun kecil. Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalisir potensi kerusakan ataupun kehilangan nyawa adalah misalnya dengan melalui pendidikan mitigasi bencana, mengikuti desain infrastruktur yang ramah atau tahan gempa, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana kegempaan.

 

Referensi

  1. Cicerone R D, Ebel J E dan Britton J, A systematic compilation of earthquake precursors, Tectonophysics 576, 2009.
  2. Diman V-A, Kaynia A M dan Gibson G, Modeling Southeast Asian subduction zone for seismic hazard assessment using global tectonics and GIS technique, Hydropower'15, Stavanger, Noorway, 2015.
  3. Geller R J, Earthquake prediction: a critical review, Geophysical Journal Internasional 131, 1997.
  4. Huang F, Li M, Ma Y, Han Y, Tian L, Yan W dan Li X, Studies on earthquake precursors in China, A review for recent 50 years, Geodesy and Geodynamics 8, 2017.
  5. Knopoff L, Earthquake prediction: the scientific challenge, Proceeding of National Academy of Science USA, 92, 1996.

 

- Dr. Syuhada, M.Sc -