Disable Preloader

Berita

29 Agustus 2020

Dedikasi Isnaeni untuk Riset Laser Jadikan Inspirasi

Serpong, Humas LIPI. Sebenarnya tidak banyak di Indonesia, yang melirik pada teknologi laser. Padahal sangat banyak manfaat laser diantaranya menghasilkan obat-obatan, kesehatan, serta kosmetik. Pada program People & Inspiration Berita Satu berkesempatan bertemu dengan Isnaeni, Peneliti Pusat Penelitan Fisika  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2F – LIPI) melalui TV kabel atau di beritasatu.com/livestream, Sabtu (29/8). Acara yang dipandu presenter Rolando Sambuaga, People & Inspiration meminta peneliti muda Indonesia ini untuk bercerita apa saja yang sedang dikerjakan, sudah membawa manfaat apa saja bagi Indonesia, dan seperti apa ceritanya sebagai seorang peneliti.

Tentang penelitian laser, peneliti Isnaneni menjelaskan di dunia penelitian bahwa laser itu banyak digunakan membuat alat-alat praktikum yang bisa menjelaskan cahaya pada anak-anak SD hingga SMA, dan juga bisa digunakan untuk riset dasar seperti membuat material baru dan menguji material hingga riste terapan yang menghasilkan teknologi dan produk untuk medis, operasi, menghilangkan tato, kecantikan, dan lain-lainnya.

Peneliti di P2Fisika LIPI berusaha untuk menggunakan laser untuk membuat nanopartikel dan untuk menguji material terutama bahan-bahan elemen toksik, gizi nutrisi pada makanan. Dengan menggunakan teknologi laser, bisa mendeteksi pada makanan dengan mudah. Alat tersebut bisa dirancang  dan dibawa ke lapangan. “Kita tidak perlu lagi membawa sampel ke laboratorium, tetapi kita datang dengan membawa alat itu ke lapangan untuk langsung mengujinya,” terang Isnaeni.

Di P2 Fisika LIPI terdapat ruangan Galaksi (Galeri Laser Optika Indonesia) yang sengaja dibuat oleh tim peneliti untuk demonstrasi bagi siswa SD hingga SMA. ”Sebenarnya laser itu berbahaya terutama bagi mata, sehingga kami buatlah satu set alat rsiet demo sebagai tempat pembelajaran agar mereka memahami bahwa laser bermanfaat pada kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Selain itu ada laser Microscope yang berfungsi untuk melihat benda  kecil seperti bakteri, mikroba, dan sebagainya yang ukurannya mikro yaitu 3-5 mikron. Tanpa menggunakan mikroskop, bisa hanya menggunakan laser dan sampel.

Tim peneliti juga membuat teknologi nanogold dengan laser. Dapat dihasilkan nanogold murni dengan menggunakan laser. Melalu teknik laser ablasi yaitu menembakkan laser ke plat emas dan air, bisa dibuat larutan nanogold yang dapat digunakan untuk berbagai aplikasi.

Nanogold dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk medis seperti untuk terapi kanker, atau untuk kanker tagging yaitu untuk mengetahui posisi kanker berada di dalam tubuh.

Selain itu, nanogold juga dapat dimanfatkan sebagai bahan kosmetik. Dari beberapa riset di dunia, membuktikan bahwa nanogold bisa mempercepat reprodusi kolagen di kulit, hingga kulit tampak semakin cerah dan selalu cerah.

Pada tahun 2019, Isnaeni dan timnya, berusaha menggandeng mitra untuk membuat nanogold teknik laser abrasi. Kemudian dengan nanogold ini kita bisa membuat produk kosmetik yaitu krim dan serum yang bisa langsung dipakai.

Nanogold tidak hanya untuk kosmetik dan obat, tetapi juga untuk kemasan anti bakteri. Isnaeni juga meengembangkan nano partikel menjadi plastik anti bakteri yang dibuat dengan teknik laser ablasi Zinc Oxide (ZnO) di dalam Larutan Poly-lacytic (PLA). Kandungan ini bisa digunakan sebagai kemasan produk makanan. Oleh karena itu, dapat membunuh bakteri sehingga makanan akan tahan lebih lama.

Manfaat yang lain, laser dapat digunakan sebagai uji deteksi toksik pada pangan. Cara mendeteksi logam seperti timah, merkuri, yang ada pada makanan atau di tanah ditembakkan laser, sehingga didapatkan spektrum dan dapat dianalisis misalkan ada unsur berbahaya.

Dalam acara bincang-bincang ini, Isnaeni menceritakan bahwa keinginan menjadi peneliti sudah muncul sejak sejak bangku SMA, tetapi ketertarikannya terhadap laser saat menempuh pendidikan strata dua (S2).

Melalui inspirasinya yaitu  BJ. Habibie, Isnaeni berusaha untuk mengaplikasikan ilmu teknologi dan sains. Akhirnya dirinya masuk ke jurusan fisika. “Karena saya lihat bahwa dasar semua ilmu teknik adalah fisika, jadi saya masuk S1 jurusan fisika di Institut Pertanian Bogor tahun 1996, kemudian lulus tahun 2000,” tuturnya.

Kemudian dirinya melamar ke LIPI, lalu melanjutkan S2 di Australia jurusan fisika juga. Disinilah baru ia mengenal optik. “Kebetulan saya senang dengan sesuatu yang visual, cahaya,” ungkapnya.

Ternyata banyak yang bisa di lakukan dengan cahaya, salah satunya sistem optikal spektrometri yaitu membahas spektrum dengan menggunakan laser. “Itulah ketertarikan saya sejak S2, dan dapat kesempatan S3 di Korea Selatan,” tambahnya.

Laser itu termasuk teknologi yang paling banyak digunakan di berbagai aplikasi termasuk komputer, handphone, hingga hankam. “Tetapi memang riset tentang aplikasi laser di Indonesia masih jarang, karena memang infrastruktur yang diperlukan memang tidak murah, di Indonesia sendiri belum ada produsen laser karena semua laser kita masih impor,” papar peneliti terbaik LIPI bidang Fisika tahun 2019. Sementara di perguruan tinggi jurusan fiska, kampus yang membahas mata kuliah tentang optik dan laser memang sedikit.

“Hampir 12 tahun di laser optik, biasanya pertama harus dalam keadaan gelap dan dingin karena memang alat-alatnya rentan terhadap suhu. Jadi biasanya saya harus bermalam untuk melakukan pengujian sampel di ruangan yang dingin, terkadang sampai dua malam bergadang karena memang sampelnya harus dijalankan saat itu juga tanpa jeda harus urut,” kenangnya.

Rasa puasnya sebagai peneliti adalah ketika berhasil menemukan sesuatu atau membuat sebuah teknologi dan dapat digunakan. Terkadang bagi para peneliti, hasil risetnya itu tidak bisa sampai ke aplikasi atau ke produk karena banyak sekali kendalanya. “Oleh karena itu, apa yang kami hasilkan, jerih payah yang kadang bertahun-tahun bisa menjadi sebuah produk dan dipakai kemudian diapresiasi oleh masyarakat itu rasanya senang sekali,” ungkap Isnaeni.

“Saya berharap untuk teknologi laser di Indonesia, ada semakin banyak peneliti muda terutama yang mau terjun di bidang laser dan optik karena penelitian ini menarik. Saya sendiri seorang muslim yang istilah cahaya banyak disebut di Alquran. Kenapa kita tidak menggali sendiri ilmu-ilmu yang ada di alam ini salah satunya dengan cara riset di bidang optik dan laser,” pungkasnya. (har/ ed. adl)