Disable Preloader

Berita

03 Mei 2019

Dukung Perempuan Peneliti, L’Oreal for Women in Science 2019 Kembali Hadir (3 Mei 2019)

(Serpong, Humas LIPI) Perusahaan kecantikan berbasis sains, L’Oreal, melalui perwakilannya di Indonesia, kembali menyelenggarakan program L’Oreal-UNESCO for Women in Science. Pada Jumat (03/05), L’Oreal Indonesia melakukan sosialisasi di Pusat Penelitian Fisika - LIPI bagi para perempuan yang berprofesi sebagai peneliti. Acara ini turut dihadir oleh Kepala Pusat Penelitian Fisika, Dr. Rike Yudianti. 

Communications and Sustainable Manager L'Oreal Indonesia, Fikri Alhabsie menyampaikan beberapa program L’Oreal, seperti Girls in Science pagi pelajar, Sorority in Science bagi mahasiswa, dan For Women in Science (FWIS) bagi peneliti. “Kami ingin mencari panutan atau role model baru, ujarnya.

Program FWIS telah berjalan selama 21 tahun di 117 negara dan telah memperoleh banyak capaian. Penerima penghargaan yang disebut fellows telah berjumlah 3000 orang dan tiga nobel berhasil diraih. Di Indonesia, sebanyak 53 perempuan telah berhasil menjadi penerima penghargaan FWIS dengan menghasilkan lima penghargaan ilmiah internasional.

Dalam menjaga keseimbangan, ilmu pengetahuan memerlukan keseimbangan. L’Oreal yang memiliki slogan ‘dunia membutuhkan sains dan sains membutuhkan perempuan’, terus mendukung karir perempuan sebagai peneliti. Berdasarkan data, presentase perempuan peneliti di Indonesia sebanyak 30 persen, sedikit lebih tinggi dari angka rata-rata di dunia, yakni 28 persen.

Pada tahun ini, terdapat beberapa pengembangan pada program FWIS dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bidang penelitian lebih luas menjadi tujuh bidang, yakni earth sciences, life sciences, material sciences, engineering, chemistry, physics, dan computer science. Sebelumnya hanya bidang life sciences dan material sciences. Besar penghargaan riset pun meningkat menjadi Rp 95 juta dari sebelumnya Rp 80 juta.

Syarat untuk mengikuti kompetisi FWIS 2019 ini adalah berusia di bawah 40 tahun sebelum malam inagurasi di bulan Oktober dan sedang atau telah menjalankan program S3. “Adanya suatu kebaruan meskipun sedikit dan dampak terhadap masyarakat merupakan poin penting,” ujar Dr. Neni Sintawardani, salah satu perwakilan juri yang merupakan peneliti senior Loka Pengembangan Teknologi Bersih LIPI. Presentasi yang komunikatif dan penulisan abstrak merupakan daya tarik bagi dewan juri.

Beberapa alumni FWIS atau fellows yang hadir turut memberikan pengalaman dan tips dalam mengikuti program. Dr. Eni Sugiarti, fellows tahun 2012, peneliti Fisika LIPI, menceritakan kita-kiat bahwa topik penelitian yang didaftarkan harus yang berkesinambungan dengan penelitian sebelumnya. “Kita harus membaca dan me-review penelitian terakhir, lalu buat dalam proposal sebanyak lima halaman. Kemudian dituangkan dalam lima slide presentasi selama 10 menit,” terangnya.

Sementara Dr. Dieni Mansur, fellows tahun yang sama dengan Dr. Eni, turut berbagi kisah. “Enaknya program FWIS ini adalah kita tidak akan dimonev terkait biaya,” jelas peneliti Kimia LIPI ini. “Kita akan diwawancara oleh wartawan dan biasanya diundang pada international women’s day,” lanjutnya. Judul yang eye catching merupakan hal yang utama menurut Dr. Dieni.

Fellows tahun 2017, S.N. Aisyiyah Jenie, Ph.D, menjabarkan bahwa topik risetnya terkait pengembangan material untuk alat pendeteksi kanker. “Modal saya adalah bahasa Inggris. Jadi buat proposalnya dalam bahasa Inggris,” kata Dr. Ais. Baginya, referensi untuk mendukung proposal juga penting. Referensi bisa dari atasan atau kolega riset.

Sebagai penutup, Dr. Neni menyampaikan bahwa peneliti harus beretika dan mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. “L’Oreal tidak akan menanyakan dana yang diterima digunakan untuk apa, tapi tahun berikutnya peneliti akan ditanya pencapaian apa yang sudah diperoleh dari proposal yang diusulkan,” tutupnya. Dari program FWIS 2019 ini, diharapkan akan muncul empat perempuan peneliti yang menginspirasi. (adl)