Disable Preloader

Berita

25 Agustus 2020

Fisika dalam Industri Semikonduktor dan Sel Surya

 

Serpong, Humas LIPI. Pusat Penelitian Fisika - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika – LIPI) menyelenggarakan Kolokium Fisika Daring dengan tema Fisika dan Industri Material di Indonesia dengan dua narasumber P2 Fisika yaitu Dr. Agus S. Wismogroho dan Deni S. Khaerudini, Selasa (25/8). 

Kolokium mingguan ini diikuti oleh peserta dari peneliti, praktisi, hingga akademisi melalui media aplikasi Zoom dan siaran langsung melalui laman Facebook pada kanal Pusat Penelitian Fisika LIPI yang dimoderatori oleh Edi Suprayoga peneliti P2 Fisika.

 Narasumber pertama, Dr. Agus S. Wismogroho menyampaikan topik Kolaborasi riset fisika dan industri untuk penajaman kegiatan penelitian. “Hampir semua tema riset, termasuk yang fundamental seperti fisika, memiliki keunggulan komparatif sehingga layak untuk dilakukan. Namun, tidak semua riset dapat didanai untuk dapat diakselerasi proses pelaksanaan penelitiannya,” jelas Peneliti Agus.

Untuk mempertajam tema riset agar dapat diakselerasi, perlu proses penajaman melalui kolaborasi. “Kebanyakan para peneliti itu tidak berbasis kebutuhan masyarakat atau industri, tetapi hanya keinginan tema peneliti itu sendiri. Untuk itu kita harus dapat membuka diri untuk tema-tema baru dan menyelaraskan dengan kebutuhan masyarakat maupun industri,” ungkapnya.

Narasumber kedua, Dr. Deni S. Khaerudini menyampaikan topik Material Perovskit Oksida dan Prospek untuk Aplikasi Industri. Material perovskit oksida ABO3 (A: La, Nd, Sm dan Gd; B: Fe, Co dan Ni; dan O: oksigen) memiliki aktivitas katalitik dan sensitivitas tinggi terhadap gas-gas tertentu, seperti senyawa karbon monoksida (CO), hidrogen sulfida (H2S), karbon dioksida (CO2). Serta senyawa hidrokarbon (HC) seperti metana, etana, dan propana.

 Material perovskit oksida dapat dimanfaatkan pada aplikasi sensor gas, membran selektif gas (untuk produksi oksigen dengan kemurnian tinggi), alat spintronik, alat magneto optik, fuel cell (sebagai katoda), baterai logam udara dan lain-lain. “Pada aplikasi konversi energi bersih, perovskit oksida memiliki peranan penting dan hingga saat ini terus dikembangkan seperti untuk aplikasi elektrokatalis (EC), fotokatalisis (PC), dan bahkan fotovoltaik (PV),” jelas peneliti Deni.

“Berdasarkan struktur yang unik dan aplikasi yang sangat beragam tersebut, maka Indonesia perlu mengambil peran dalam pengembangan material perovskit oksida untuk menjawab tantangan dan ragam aplikasi industri secara mandiri, terutama yang berbasis bahan baku lokal,” pesan Ketua Kelompok Penelitian Fuel Cell dan Hidrogen. (har/ ed. adl)