Disable Preloader

Berita

09 Juni 2020

Inovasi LIPI Masker Kain Anti Virus

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Fisika (P2 Fisika) mengembangkan masker kain pembunuh virus yaitu masker anti virus berlapis tembaga, pada program Halo Indonesia DAAI TV, Rabu (10/6). Masker kain disinfektor ini merupakan inovasi anak bangsa yang sedang dikembangkan untuk mencegah penularan Corona virus desease (COVID-19).

Tak hanya mencegah virus masuk ke dalam pernafasan, tetapi masker ini mampu menjadi “contact killer” atau pembunuh virus yang menempel pada permukaan kain. Kandungan senyawa tembaga yang dilapiskan pada masker ini menjadi anti bakteri dan anti virus. Selain itu, media tembaga dapat merusak RNA virus yang berdiameter 0,065 mikro meter seperti jenis virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

“Apabila virus seperti SARS-CoV-2 yang kontak dengan lapisan tembaga, ada ion radikal dari tembaga atau Cu (cuprum) [yang biasa disebut Cu+ atau Cu2+] yang nantinya akan berpenetrasi, berdifusi, lalu akan masuk ke dinding sel virus,” ujar Deni. “Ion radikal hasil dari reaksi Cu akan bereaksi, memakan ikatan RNA virus hingga putus, lalu virus tersebut akhirnya mandul tidak dapat bereproduksi, dan lama-kelamaan mati,” jelas Deni Shidqi Khaerudini, Peneliti P2 Fisika - LIPI.

Deni menjelaskan bahwa masker kain disinfektor juga bisa dikenakan berulang kali dengan cara dicuci secara rutin. Jika dipakai lapisan tembaga yang menempel pun tidak luntur atau terhirup oleh sistem pernafasan. Terdapat dua jenis pilihan masker kain disinfektor yaitu: kain masker yang langsung dilapisi secara permanen dan tembaga pembunuh virus (contact killer) yang hanya disisipkan di dalam masker saja.

“Kami mendesain khusus masker ini supaya bisa disisipkan, tetapi pada lapisan luarnya tidak kami lapiskan,” ungkap Deni. Artinya masker ini bisa digunakan dengan masker kain mana pun, yang penting memiliki dimensi yang serupa dengan lembaran ini. Kemudian setelah dimasukkan, disisipkan sama seperti masker kain biasa, baru digunakan. “Maskernya silakan dicuci, lembar sisipan tadi pun tetap dapat digunakan berulang-ulang,” kata peneliti Fisika tersebut.

Masker disinfektor sudah dikembangkan sejak tiga bulan lalu dan kini telah lulus uji fisika, kadar pH (keasaman), kekeruhan material, hingga kelekatan. Namun tim peneliti masih menunggu hasil uji coba Laboratorium Biosafety Level-3 (BSL-3) LIPI dan sedang mengajukan hak paten ke ditjen hak atas kekayaan intelektual . Rencanaya masker disinfektor ini akan dipasarkan sehingga dapat digunakan oleh masyarakat umum. Selain LIPI, inovasi serupa juga tengah dikembangkan oleh peneliti di Gunma University, Jepang. (har/ ed. adl)