Disable Preloader

Berita

22 September 2020

Kebijakan Inovasi yang Efektif bagi Indonesia

 

Serpong, Humas LIPI, Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPT – LIPI) melalui Pusat Penelitian Fisika (P2 Fisika) menyelenggarakan Webinar Kebijakan yang Efektif Mendorong Daya Saing: Pembelajaran dari Beberapa Negara, Selasa, (22/9), melalui media  Zoom, Facebook live, dan Youtube kanal LIPI. Acara ini dilaksanakan untuk mendorong para peneliti bidang keteknikan dan masyarakat umum untuk lebih peduli terhadap peran dan posisi ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi terhadap kemajuan bangsa.

Webinar ini disampaikan oleh dua narasumber inspiratif dan komprehensif, yakni Amir Manurung, Ph.D. (Analis Inovasi Industri Direktorat Inovasi Industri Kemenristek/BRIN) dan Dr. Dudi Hidayat (Kepala Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi – LIPI). Sebagai pemandu jalannya acara peneliti Pusat Penelitian Fisika – LIPI, Dr. Deni Shidqi Khaerudini bertindak sebagai moderator.

Webinar kali ini mengangkat topik yang lebih luas cakupannya, tidak hanya fisika teori, tetapi juga fisika aplikasi sampai aplikasi kebijakan. Dengan peserta dari seluruh ilmuwan, pemangku kepentingan, pelaksana inovasi, dan umum.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono dalam sambutannya mendorong agar hasil-hasil riset dapat membuktikan publikasi ilmiah atau tervalidasi oleh pakar pada bidangnya masing-masing. Tidak berhenti di situ hasil-hasil-hasil risetnya bisa berkolaborasi dengan pihak eksternal terutama pihak swasta.

Agus Haryono berharap layanan sains bekerja sama dengan menggunakan infrastruktur riset yang ada di LIPI, sehingga diharapkan nanti kerja sama dengan pihak swasta lebih meningkat lagi dibandingkan sekarang. “Dalam seminar ini kita akan mendapat pencerahan bagaimana meningkatkan daya saing melalui peningkatan inovasi baik di lembaga riset maupun di badan usaha swasta,” jelas deputi yang sekaligus membuka seminar.

Pembicara pertama, Amir Manurung, Ph.D., memberikan ulasan komprehensif tentang inovasi sains terhadap dunia industri. Amir menjelaskan bahwa Inovasi bukanlah mengembangkan invensi secara linier dan itu membutuhkan kerja sama atau lintas bidang. Inovasi juga tidak bisa dilakukan secara homogen oleh suatu klaster pada ilmuan saja.

Siklus inovasi sendiri tidak hanya berjalan satu kali. Sejarah awal bangsa Jepang sendiri pernah melakukan import investasi asing, melakukan imitasi – adaptasi. Kemudian mereka melahirkan teknologi kunci yang dilakukan hingga 50-60 tahun dimulai sebelum perang dunia kedua.

Kemudian Amir juga secara global memperkenalkan teknologi dan membangun publik atas IPTEK dengan beberapa syarat. “Tentu saja kepercayaan dan penerimaam masyarakat adalah suatu yang harus terus diperjuangkan, jadi jangan terlalu ‘ge-er’ mentang-mentang dari komunitas sains orang langsung percaya,” kata Amir.

“Pada ujungnya, yang penting adalah sila ketiga dari pancasila persatuan Indonesia, jika tidak ada rasa persatuan mustahli kita bisa menjadi negara inovatif,” tutupnya.

Pembicara kedua, Dr. Dudi Hidayat memaparkan tentang paradoks inovasi yang terkait dengan kebijakan inovasi. Jadi ada semacam rantai inovasi dan peran litbang dalam mendukung inovasi.

“Pelaku utama inovasi adalah perusahaan industri. Lembaga penelitian dan pengembangan (Lemitbang) itu mendukung industri berinovasi, itulah mayoritasnya bukan berinovasi sendiri, mustahil bisa saja terjadi inovasi di lembaga litbang, tetapi itu kejadian yang langka dibanding dengan kejadian inovasi yang lebih luas,” ungkapnya.

Pemerintah perlu membangun kebijakan inovasi yang komprehensif mencakup faktor IPTEK, dan faktor komplementer yang lainnya. Seperti kebijakan untuk mengidentifikasi masalah kebijakan, memformulasikan kebijakan, atau menginplementasikan, mengevaluasi dan belajar dari kebijakan yang diimplementasikan.

Lemlitbang perlu memposisikan diri sebagai sumber daya pendukung inovasi industri dengan membangun struktur organisasi yang tepat dan proses bisnis yang tepat. Sehingga memungkinkan organisasi litbang untuk menjadi rumah kerja sama litbang kerja sama inovasi dari para pelaku litbang dan industri di Indonesia.

“LIPI sebagai contoh lab litbang yang siap mendukung kebijakan inovasi, dengan memiliki manajemen riset berupa SDM, organisasi anggaran, serta sentralisasi administrasi yang berbasis kawasan yang reformasi yang telah dilakukan sudah sangat baik,” terang Kepala Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi – LIPI.

Acara ditutup oleh Kepala P2 Fisika LIPI, Rike Yudianti menyebutkan bahwa penelitian dan pengembangan itu tidak lepas dari kebijakan-kebijakan yang menghasilkan, ekosistem yang cukup baik untuk memperkuat litbang. Dan ini sudah dilakukan oleh LIPI, meski tentu efeknya tidak dirasakan setahun-dua tahun sekarang ini, tetapi untuk beberapa tahun ke depan, dan LIPI sedang melakukan proses untuk transformasi ini.

Terpenting adalah kebijakan pemerintah memberikan kebijakan-kebijakan yang lebih pro terhadap inovasi yang ada pada para pelaku riset.

“Proses webinar ini tentunya akan memberikan inspirasi terutama bagi kami di pelaku-pelaku IPTEK teknis, jadi mungkin dapat memberikan kolaborasi terkait perkembangan teknologi yang ada pada teman-teman,” tutup Rike. (har/ ed. adl)