Disable Preloader

Berita

27 Oktober 2020

Kristal Sinsilasi Perovskit Halida: Dari Fundamental Hingga Komersialisasi untuk Detektor Radiasi

Serpong, Humas LIPI. Pusat Penelitian Fisika – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indnesia (P2 Fisika – LIPI) menyelenggarakan Kolokium Fisika Daring dengan topik Kristal Sinsilasi Perovskit Halida: Dari Fundamental Hingga Komersialisasi untuk Detektor Radiasi oleh Muhammad Danang Birowosuto dari CNRS International, Nanyang Technological University, Thales research Alliance - Singapura, Selasa (27/10). Danang Birowosuto menyampaikan tentang material hingga deteksi radiasi, serta fisika partikel. Selain itu, membahas dari fundamental hingga komersialisasi detektor radiasi.

“Kristal Sintilasi Perovskit Halida merupakan material baru yang biasanya terkenal pada solar sel. Ternyata efisien solar sel juga efisien terhadap detektor radiasi khususnya sebagai sintilator,” papar Peneliti Danang.

Material perovskit halida yang dapat ditumbuhkan melalui proses dalam larutan dan murah telah menjadi primadona bagi riset sel surya saat ini. Efisiensi dari sel surya tandem pada material ini yang telah mencapai 30% sudah menjadi daya tarik tersendiri sebagai masa depan komersialisasi sel surya.

Danang menjelaskan, empat tahun lalu, dirinya bersama tim telah menemukan bahwa material perovskit sangat berguna untuk deteksi radiasi khususnya material sintilasi. “Deteksi radiasi sebenarnya sesuatu yang perlu kita hindari karena radiasi itu berbahaya untuk radiasi nuklir, dan sebagainya, tetapi dalam hal ini, deteksi radiasi ini sangat berguna untuk berbagai macam aplikasi,” jelasnya.

Material sintilasi adalah material yang mengubah radiasi energi tinggi seperti sinar-X dan sinar gamma menjadi cahaya tampak dengan energi 1000 kali lebih rendah. Material sintilasi dapat ditangkap oleh detektor cahaya biasa. “Material sintilasi mempunyai aplikasi yang sangat luas, antara lain untuk industri seperti digital X-ray panel yang terdiri dari struktur sintilasi yang detail, untuk kesehatan seperti CT-scan, PET-scan, g-ray camera,” ungkapnya.

Material ini juga sebagai alat pemindai keamanan seperti X-ray scanning yang digunakan di bandara,  stasiun, dan di mal. Bahkan untuk penelitian eksperimen energi tinggi, eksplorasi minyak bumi, hingga untuk ekplorasi ruang angkasa seperti satelit. Pencarian material sintilasi ini semakin berkembang, sehingga pasar sintilator selalu meningkat. Sejalan akan tuntutan yang kuat pada perawatan kesehatan dan pembangkit listrik tenaga nuklir seperti pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir. Terutama saat Covid-19, terkait kesehatan, ada permintaan yang signifikan pada digital panel X-ray.

Pengaruh nanoteknologi seperti quantum dot dan nanostruktur dari perovskit halida diperkenalkan untuk mengoptimasi cahaya keluaran dari material sintilasi. “Saat ini, material sintilasi kami telah mencapai cahaya keluaran yang cukup tinggi sebanyak 40.000 foton per MeV energi radiasi dan dengan resolusi 7,7% untuk mengidentifikasi sumber sinar gamma Cesium 662 keV. Dengan hasil ini, proyek dengan Thales telah digulirkan dua tahun lalu untuk melihat potensi komersialisasi kristal sintilasi kami dengan panel sinar-X mereka,” terang peneliti yang berafiliasi dengan Universitas Prasetiya Mulya.

Sebagai informasi, Kolokium Fisika Daring yang membahas penelitian Fisika dari  internal dan eksternal LIPI ini diikuti oleh peserta dari peneliti, praktisi, dan akademisi melalui media aplikasi Zoom, siaran langsung melalui laman Facebook@lipiphysics dan YouTube Pusat Peneltian Fisika LIPI: https://is.id/ly-lipiphysics. Acara ini dipandu oleh Ahmad Ridwan Tresna Nugraha peneliti P2 Fisika – LIPI. (har/ ed. adl)