Disable Preloader

Berita

21 Desember 2020

LIPI dan Osaka University Hadirkan Riset Biopolimer

Serpong, Humas LIPI. Pencemaran lingkungan menjadi topik yang tiada habisnya diperbincangkan. Tak lain karena hal ini terkait erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Pencemaran tanah, sungai, dan laut terus terjadi di seluruh dunia hingga mengancam ekosistem. Fredina Destyorini, peneliti dari Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Fisika – LIPI), mencari solusi dari berbagai polusi ini dan memaparkannya pada acara webinar bertajuk Bio-based Polymer and Its Applications (Biopolimer dan Aplikasinya), pada Senin (21/12).

Webinar kolaborasi antara LIPI dan Osaka University yang dilakukan secara daring ini, bertujuan mendiseminasikan hasil-hasil riset yang dilakukan LIPI terkait biopolimer atau polimer organik berikut aplikasinya. Selain Fredina, hadir dua narasumber lainnya yaitu Muhammad Ghozali dari Puslit Kimia LIPI dan Yu-I Hsu dari Department of Applied Chemistry, Osaka University.

Dalam presentasinya, Fredina Destyorini memaparkan pemanfaatan limbah biomassa sebagai sumber karbon yang dapat diperbarui dan aplikasinya dalam peralatan elektrokimia. Fredina menjelaskan latar belakang penelitiannya dari berbagai problematika seperti pemanasan global, polusi lingkungan, pembuangan limbah, dan pengurangan energi fosil.

“Kami mengembangkan peralatan energi elektrokimia dari limbah biomassa berupa fuel cell, baterai ion-litium, dan kapasitor super,” ujarnya. Limbah biomassa merupakan pionir karbon yang memiliki keunggulan struktur yang sangat berpori, ketersediaan berlimpah, dan dapat diperbarui (renewable). “Karbon itu merupakan unsur dengan struktur yang beragam, luas permukaan yang banyak, pengendalian yang kuat, dan stabilitas bahan kimia yang baik,” lanjut Fredina.

Sementara Ghozali dari Puslit Kimia menyampaikan bahwa sebagai seorang peneliti harus melakukan sesuatu untuk menangani problem lingkungan di masyarakat. “Ada dua macam tindakan yang bisa dilakukan, yaitu kuratif dan preventif. Kuratif antara lain dengan recycle, reuse, reduce, bank sampah dan TPS (Tempat Pembuangan Sampah). Sementara preventif dengan melakukan kebiasaan baik dan memanfaatkan produk biodegradable (terurai secara organik),” terangnya. 

Dirinya lantas memaparkan berbagai produk plastik biodegradable berbahan dasar singkong untuk keperluan pengemasan. “Cara membuat plastik organik ini adalah dengan mengubah tepung singkong menjadi pellet melalui extruder. Pellet ini kemudian dijadikan lapisan tipis hingga menjadi plastik organik biodegradable,” jelasnya. Ghozali memanfaatkan limbah tapioka padat menjadi biofoam yang dapat terurai hanya dalam tempo dua minggu, serta kertas non-wood yang berfungsi mengurangi perusakan hutan.

Yu-I Hsu sebagai narasumber terakhir menyampaikan presentasi berjudul Development of novel stimulus responsive hydrogels using bio-based biodegradable polymers. Hsu mengembangkan material yang memacu regenerasi sel dari biodegradable polymer. Penelitian ini menjadi terobosan di dunia medis yang senantiasa menuntut inovasi di berbagai segmen. (nh/ ed. adl)