Disable Preloader

Berita

14 Februari 2021

Memantau Jaga Jarak dengan Pesawat Nirawak

Serpong, Humas LIPI. Dalam rangka pencegahan penularan COVID-19, negara tetangga Indonesia, Singapura, sudah memulai menggunakan drone atau pesawat nirawak untuk membantu aktivitas jaga jarak. Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Edi Kurniawan, mengembangkan riset drone physical distancing atau pesawat nirawak jaga jarak. “Dari 2019, kami sudah melakukan penelitian terkait pesawat nirawak untuk peliputan, monitoring bencana, ujar Edi mengawali. “Kemudian pada Juni 2020 ada new normal (normal baru), kami arahkan untuk monitoring kerumunan atau jaga jarak, lanjutnya pada acara dialog “To The Point”, Radio RRI Pro 3, Minggu (14/2).

“Drone tersebut bisa mendeteksi obyek orang lalu menghitung jarak antar orang tersebut dengan perhitungan algoritma kecerdasan buatan,” jelas Edi.

Dalam melakukan risetnya tersebut, Edi bersama teman-teman dari kelompok penelitian Fisika yang berfokus pada bidang yang sama berupaya agar drone tersebut siap digunakan. “Saat ini presentase untuk siap digunakan adalah 80%,” ungkapnya.

Setelah prototipe drone hasil penelitian Edi dan Tim siap dari laboratorium, maka perlu dilakukan uji terbang. “Drone yang kami kembangkan adalah drone otonom, tidak menggunakan remote control (pengendali jarak jauh), tetapi dengan kendali otonom,” terangnya. “Kendali perintah terbangnya akan dikirim melalui ground control (pengendali darat) lalu drone bisa terbang mengikuti rute, ketinggian, dan berapa lama waktunya dari ground control tersebut,” tambahnya.

Dalam penyempuraan drone, Edi dan Tim membutuhkan waktu yang cukup lama. “Apa yang menyebabkan lama adalah beberapa faktor, seperti perangkat keras dan perangkat lunak yang ditemui ketika uji terbang,” Kendala yang muncul saat uji terbang akan diperbaiki. “Misalnya ketika terbang menggunakan motor tertentu, baling-baling tertentu, tidak cocok, jadi kami perbaiki,” imbuhnya.

Mengenai bahan baku, Edi menyampaikan bahwa sebagian terdapat di Indonesia dan sebagian harus diimpor dari. Luar negeri. “Bahan yang ada di Indonesia yaitu bagian mekanik bisa seperti frame (rangka), tetapi bagian dalamnya harus dari luar negeri, karena bagian dalamnya mengandung aspek teknologi kecerdasan buatan untuk pemrosesan video,” jelasnya.

Dari komponen bahan tersebut, penyiar Desy Natalia tertarik untuk bertanya berapa biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan 1 unit drone. “Dari drone ada beberapa variasi yang menentukan harga keseluruhan, seperti untuk melakukan pemrosesan gambar dan video, jadi perkiraan untuk harga bahan yang dirakit per bagian adalah Rp 20-30 juta, untuk membuat satu paket,” ungkap Edi.

Spesifikasi drone yang memiliki berat 1,7 kilogram dan membawa kamera pilot ini disesuaikan untuk ketinggian terbang 10 meter untuk memantau kerumunan. Teknologi drone ini dapat disesuaikan dengan komputer yang memiliki kecerdasan buatan sesuai kebutuhan.

Rekaman dialog To The Point RRI Pro 3 :

https://drive.google.com/drive/u/4/folders/1XzXmsCCYArhqj1bYzeZ34NYqKojw0Puu

(adl, mfn)