Disable Preloader

Berita

15 November 2017

Nanopartikel Emas dan Kunyit untuk Pengobatan Kanker

Tingkat kejadian kanker di Asia Tenggara adalah yang teritinggi di seluruh dunia, dan Indonesia masuk di peringkat teratas bersama Malaysia dan Singapura. Di Tanah Air sendiri, kanker serviks dan payudara merupakan penyakit dengan prevalensi tertinggi di Indonesia.

Kanker serviks telah menjadi penyebab kematian perempuan ketiga di Indonesia, di mana pada 2013 terdapat 98 ribu orang penderita kanker serviks di Indonesia.

Selama ini radioterapi dan kemoterapi masih menjadi pengobatan kanker yang paling sering digunakan.

Namun, adanya sejumlah kerugian yang ditimbulkan atas pengobatan tersebut, misalnya saja terdapatnya residu yang tinggi di dalam tubuh, membuat kebutuhan adanya inovasi penerapan teknologi lain untuk penanganan penyakit kanker.

Melalui penelitian berjudul "Sintesis Nanopartikel Kurkumin-Emas dengan Teknik Ablasi Laser Femtosekon dan Studi Bioaktivitas Cytotoxic pada Sel Kanker untuk Terapi Pengobatan Kanker", Dr Yuliati Herbani mengembangkan terapi kanker yang didasarkan pada tiga hal, kunyit, emas, dan laser.

Kurkumin yang banyak terdapat dalam kunyit, terbukti dapat membunuh sel-sel kanker. Sementara itu, emas dapat membangkitkan panas yang dalam ukuran tertentu dapat menghancurkan sel-sel kanker.

Dari dasar itu, perempuan bergelar doktor di bidang teknik material terapan laser dari Universitas Tohoku, Jepang, itu mengawinkan dua bahan tersebut. Ia membuatnya menjadi ukuran nanopartikel dengan menggunakan teknologi laser.

Selain panasnya dapat menghancurkan sel kanker, perempuan yang akrab disapa Yuli itu menggunakan nanopartikel emas karena zat tersebut dapat keluar bersama metabolisme tubuh.

Secara singkat, alumni Institut Pertanian Bogor jurusan fisika tersebut menjelaskan tentang cara kerja "duet" kunyit dan emas yang dibantu dengan teknologi laser.

"Nanopartikel emas masuk ke dalam tubuh kemudian kita laser dengan energi rendah, dia akan membangkitkan panas, dari panas itu bisa menghancurkan sel-sel kanker. Jika dikawinkan dengan kurkumin, kurkumin itu tidak bisa terlarut dalam air, makanya dia dikawinkan dengan si emas tadi supaya bisa masuk ke dalam tubuh dengan sempurna," jelas Yuli.

"Begitu ada fototermal tadi, nanopartikel emasnya jadi panas sehingga kurkuminnya lepas dan itu bisa menyebar lebuh jauh jaraknya daripada nanopartikel, jadi efeknya ganda" imbuh dia.

Yuli menjelaskan, penelitiannya tersebut masih meneliti aktivitas nanopartikel tersebut di dalam sel. Meski demikian, ia bercita-cita bahwa penelitiannya itu dapat diinjeksikan ke bagian tubuh yang terkena kanker.

Sumber : https://www.liputan6.com/global/read/3163525/2-perempuan-peneliti-bangun-alat-pendeteksi-dan-pemusnah-kanker