Disable Preloader

Berita

12 November 2019

Pemanfaatan Repositori Ilmiah Nasional di P2 Fisika - LIPI (12 November 2019)

Serpong, Humas LIPI. Bertempat di Gedung 440, Serpong, Tangerang Selatan, para peneliti Pusat Penelitian Fisika – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika – LIPI) mengikuti kegiatan “Bimbingan Teknis Repositori Ilmiah Nasional untuk Peneliti” yang diberikan oleh Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah (PDDI) LIPI, pada Selasa, (12/11). Kepala Bidang RIN PDDI – LIPI, Noorika Retno Widuri mengatakan bahwa guna meningkatkan kolaborasi dan sinergi penelitian, diperlukan sistem pengelolaan data penelitian, dan karya ilmiah di Indonesia.

Dalam pembukaannya, Kepala Subbagian Tata Usaha P2 Fisika – LIPI, Arif Nurhakim menyatakan bahwa dirinya ingin RIN tidak hanya sekedar  media penyimpanan.”Sistem RIN dapat menjadi the largest database in Indonesia dan menjadi peluang kolaborasi peneliti Indonesia dengan dunia global menuju riset 4.0.,” harap Arif.

“Semoga peneliti menggunakan RIN tidak hanya karena dipaksa oleh regulasi, tetapi karena RIN memang bermanfaat bagi penelitian,” tutup Kasubbag TU.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu pengetahuan dan Teknologi, kewajiban simpan data primer, wajib serah, dan wajib simpan seluruh data primer dan pengeluaran hasil penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan karya ilmiah menjadi amanat undang-undang.

Selain itu, ada peraturan kepala LIPI nomor 12 tahun 2016, bahwa PDDI — waktu itu Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) — ditunjuk sebagai pengelola data, penelitian, dan karya ilmiah yang dihasilkan oleh seluruh  peneliti di Indonesia. Sebagai bentuk dukungan undang-undang tersebut, maka LIPI menyediakan infrastruktur penyimpanan data penelitian melalui Repositori Ilmiah Nasional (RIN).

Kegiatan ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Menristek/ Kepala BRIN, Bambang Brojonegoro bahwa beliau akan mengawal implementasi undang-undang nomor 11 tahun 2019 UU sisnas IPTEK. Hal ini sebagai wujud dukungan kami kepada pemerintah bahwa kami sudah mengimplementasikan UU tersebut.

Di LIPI, PDDI melakukan road show bimbingan teknis (bimtek) di seluruh satker di lingkungan LIPI seperti Serpong, Bandung, Jakarta, Bogor, Cibinong, Lombok, kemudian Kebumen, dan Lampung menyusul. “Kami berharap peneliti juga memanfaatkan infrastruktur itu untuk penyimpanan data primer mereka,” jelas Noorika.

Beberapa peneliti Puslit Fisika – LIPI berpendapat tentang sistem RIN sangat bagus karena akan mengamankan data kita sepanjang masa itu, dan tidak akan hilang. Sistem Reposistori mudah diakses ketika kita membutuhkannya.

“RIN sistem kerahasiaanya masih tetap terjaga, karena kita bisa membuka untuk kalangan tertentu. Kami berpesan agar dijaga data-data kami untuk kerahasiaan, seperti data kerja sama dengan industri, dan data-data yang sudah kita publis,” ujar salah seorang peserta.

Secara umum para peserta tidak menemui kesulitan karena peneliti bisa menyimpan file dalam bentuk apa pun. Sehingga apa pun hasil penelitian dalam berbagai bentuk file yang dimiliki bisa dimasukkan ke sistem. 

RIN yang dikembangkan LIPI adalah sarana penyimpanan dan berbagi data yang sangat baik, mudah dipahami, dan mudah digunakan.

Peneliti harus menyimpan datanya dengan cermat agar karya publikasinya dapat dipertanggungjawabkan dan dapat direproduksi oleh peneliti lain di seluruh dunia. Terkadang ada masalah dari suatu publikasi ilmiah yaitu tidak dapat direproduksi oleh peneliti lain karena data dari publikasi ilmiah tersebut tidak tersedia atau malah dimanipulasi oleh penulisnya.

Sekarang dan masa depan adalah eranya sains terbuka. Data penelitian untuk kemaslahatan umat manusia yang tidak terkait dengan keamanan suatu negara tertentu ada baiknya bisa dibagikan bebas, sehingga sains akan berkembang lebih cepat. 

Keterbukaan data penelitian akan menjamin siapa pun mampu mereproduksi hasil penelitian yang telah dipublikasikan dan mengembangkannya lebih jauh lagi. (har/ ed. adl)