Disable Preloader

Berita

29 Juli 2021

Peneliti Fisika Motivasi Diaspora Perkuat Riset dan Inovasi Indonesia

Serpong, Humas LIPI.  Tahun ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka kesempatan berkarir dan berkarya bagi para diaspora serta talenta unggul untuk memajukan riset dan inovasi Indonesia. Hal ini merupakan langkah BRIN untuk mempercepat dan memperkuat riset-riset dan inovasi di Indonesia. Berhubungan dengan hal tersebut, BRIN menyelenggarakan Webinar Sosialisasi Seleksi penerimaan Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) 2021 secara virtual pada hari Kamis (8/7).

Sebanyak 325 formasi dibuka untuk mengisi formasi Jabatan Fungsional Peneliti Ahli Muda dan Peneliti Ahli Madya di lingkungan BRIN yang terdiri dari 221 formasi CPNS dan 104 formasi CP3K siap diisi oleh para putra-putri bangsa lulusan S3 terbaik dari dalam maupun luar negeri. “Penetapan minimal kualifikasi S3 ini dilakukan menyesuaikan dengan standar riset global. Dimulai dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tiga tahun terakhir sudah melakukan itu, periset kita harus bisa berkompetisi dengan para periset global,” ungkap Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko. “Periset dengan standar global memulai dengan jejaring dan keahlian yang dimiliki, bukan menunggu diberi topik riset,” ujarnya.

Handoko yang menyebut dirinya mantan diaspora, berharap sebagian besar periset diaspora bisa kembali bekerja di Indonesia. “Kita memerlukan para periset yang handal yang sudah memiliki jam terbang, sudah siap untuk menjadi periset mandiri untuk bekerja di lab-lab di Indonesia. Karena kalau tidak ada periset yang handal tentu  akan menjadi masalah yang sangat besar,” tambahnya yang merupakan alumnus Kumamoto University dan Hiroshima University, Jepang.

Peneliti formasi diaspora dari Pusat Penelitian Fisika LIPI, Ahmad Ridwan Tresna Nugraha, turut berbagi pengalamannya mendaftar CPNS LIPI melalui jalur diaspora pada tahun 2018. Sebagai motivasi, Ahmad Ridwan menyampaikan pernyataan dari Bung Karno yang cukup terkenal. “Beri aku 1000 orang tua, maka akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Lalu bagaimana dengan pemuda peneliti?” lanjutnya.

Lulusan dari Tohoku University, Jepang itu kemudian menyampaikan pandangannya mengenai indikator kemajuan negara melalui jumlah pemuda penelitinya. “Jika kuantitas pemuda peneliti S3 itu dijadikan salah satu parameter kemajuan suatu negara, sangat wajar Indonesia sampai saat ini belum juga menjadi negara maju. Kita masih kalah dengan negara tetangga yang maju seperti Singapura jumlah peneliti sudah ribuan berbanding jumlah penduduknya yang lima jutaan,” terangnya.

“Sebagai peneliti, ada peluang bagi kita menjadi inovator atau inventor,” imbuhnya. Dirinya menyebutkan motivasi untuk balik ke Indonesia. “Motivasi pragmatis, bekerja di Indonesia, tidak mudah bagi saya untuk bekerja sesuai bidang, terbatas juga lowongan dari kampus, namun LIPI membuat saya mampu bekerja sesuai bidang. Selain itu, faktor keluarga untuk pendidikan anak dan faktor orang tua yang ada di Indonesia,” tutur jelas penerima LIPI Young Scientist Award (LYSA) tahun 2019.

“Motivasi idealis, bekerja merupakan ibadah, dengan ilmu kita bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, menjadi agen perubahan di Indonesia. Dengan kolaborasi dengan mitra luar negeri, jika mimpi kita dibiayai oleh negara, kita harus memberi timbal balik untuk masyarakat dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat,” ujarnya. Jika kita mau jujur, mencari pekerjaan di masa pandemi saat ini sulit, pengangguran meningkat. Penting sekali bagi kita untuk menyambut inisiatif BRIN yang membuka lowongan bagi pendaftar S3. Saat saya bergabung di LIPI, grup riset kami berjumlah 2 orang, saat ini sudah jumlah SDM-nya bertambah menjadi 13,” jelas peneliti fisika teori dan komputasi material tersebut.

Hal tersebut juga ditegaskan pula oleh Kepala BRIN, bahwa mengembangkan inovasi dan riset di Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar. “Kami mengajak teman-teman semua untuk bersama-sama menjadi saksi sejarah. Bersama-sama membangun dari awal milestone ini untuk menjadi pondasi kemajuan iptek dan riset di Indonesia, yang mampu bersaing dan berkompetisi secara global dan menjadi pondasi perekonomian kita yang Indonesia maju ke depan,” pungkas Handoko. (whp, adl)