Disable Preloader

Berita

05 November 2020

Peneliti Klaster Material Antivirus Kedeputian IPT-LIPI Berbagi Informasi Riset Covid-19

Serpong, Humas LIPI. Dalam rangka memonitor dan mengevaluasi kegiatan penelitian terkait riset Covid-19, Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPT – LIPI) bersama peneliti klaster material antivirus, menyelenggarakan sharing session secara daring via Zoom pada Kamis (5/11). Acara ini menghadirkan 6 presenter yaitu Deni Shidqi Khaerudini dan Yuliati Herbani dari Pusat Penelitian (Puslit) Fisika, Joddy Aryo Laksmono dan Adid Adep Dwiatmoko dari Puslit Kimia, serta Murni Handayani dan Vinda Puspasari dari Puslit Metalurgi dan Material.

Kepala Puslit Fisika, Rike Yudianti memberikan pengantar acara. “Keenam presenter kali ini diharapkan dapat melakukan uji fungsi terhadap hasil risetnya,” ujarnya. Sementara Deputi IPT, Agus Haryono, menambahkan bahwa semua kegiatan yang dipresentasikan kali ini masih dalam tahap penelitian, belum diuji. “Diharapkan para peserta sharing session kali ini dapat memberikan banyak masukan,” tambahnya.

Presenter pertama, Deni Shidqi Khaerudini menyampaikan risetnya tentang masker kain disinfektor berbasis lapisan tembaga sebagai masker anti Covid-19. Deni mengatakan bahwa tembaga (Cu) telah dikenal sebagai anti-microbial agent sejak zaman Mesir dan Yunani kuno, seperti untuk perawatan luka dan sterilisasi air. “Dan hingga tahun 2011, ada 300 jenis paduan tembaga sebagai anti-microbial agent yang telah terdaftar,” jelasnya.

Menurut Deni, mekanisme perusakan bakteri maupun virus akibat kontak dengan tembaga berbeda-beda tergantung jenis mikroorganisme. Lebih lanjut ia membandingkan masker medis dan masker kain yang biasa digunakan masyarakat. Meskipun menggunakan masker medis, tetap ada kemungkinan virus Covid-19 lolos karena ukurannya jauh lebih kecil dari B Atrophaeus. “Oleh karena itu, tidak cukup hanya ukuran pori yang kecil, tapi diperlukan lapisan aktif yang bersifat mematikan atau memutus RNA virus secara efektif pada masker,” ujarnya.

Presenter kedua, Murni Handayani, mempresentasikan riset yang hampir sama dengan Deni, yaitu tentang masker. Bedanya, masker yang dibuat oleh Murni berbasis nanofiber graphene-AgNPs-polipropilene. “Graphene mempunyai ukuran dalam nanometer sehingga lapisannya mampu sebagai filter yang sangat efisien dibandingkan jika menggunakan filter karbon,” ujarnya mengutip Peneliti sebelumnya.

Selanjutnya Joddy Aryo Laksmono menjelaskan penelitiannya tentang pembuatan alat pelindung diri dengan proses crosslink material antimicrobial pada bahan kain melalui chemical surface modification. “Output dari kegiatan ini adalah terciptanya APD (alat pelindung diri), dalam hal ini baju yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para tenaga kesehatan,” paparnya.

Yuliati Herbani, presenter keempat menyampaikan kegiatan pengembangan nanoklaster silver (AgNCs) sebagai material aktif aditif dalam obat inhalasi pasien.

Sementara Adid Adep Dwiatmoko, mempresentasikan kegiatan adsorben super MOF (Metal Organic Frameworks) sebagai fotokatalis pembersih udara.

Presenter terakhir, Vinda Puspasari menjelaskan risetnya tentang pengembangan sistem pelapisan fotokatalitik anti-mikroba berbasis nanomaterial untuk pencegahan infeksi pada lingkungan fasilitas kesehatan. Penelitian ini berfokus pada pengembangan lapisan protektif anti bakteri untuk melawan Hospital Acquired Infections (HAI) yang disebabkan oleh bakteri, virus atau jamur. “Sistem proteksi coating yang diaplikasikan berbasis nanomaterial yang didasarkan pada pendekatan nanoteknologi,” jelasnya.

Acara sharing session diselingi dengan forum tanya-jawab yang cukup efektif. Peserta antusias mengungkapkan berbagai pertanyaan yang ditujukan kepada para presenter. (nh/ ed. adl)