Disable Preloader

Berita

03 Desember 2020

Pengembangan Quadkopter untuk Deteksi Pelanggaran Physical Distancing di Kerumunan

Serpong, Humas LIPI.  Edi Kurniawan peneliti Pusat Penelitian Fisika – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika – LIPI), pada Kamis (3/12) memaparkan penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Quadkopter untuk Deteksi Pelanggaran Physical Distancing di Kerumunan. Topik riset tersebut ditampilkan dalam acara Sharing Session Riset Covid-19 Kedeputian IPT LIPI; Kluster Deteksi Berbasis Machine Learning yang ditayangkan melaui media aplikasi Zoom.

Edi Kurniawan mengungkapkan bahwa dengan adanya kebiasaan baru (new normal) ini ada semacam dua sisi mata uang. Di satu sisi dapat membantu dalam keberlangsungan usaha, pertumbuhan ekonomi, tetapi di sisi lain bisa membangkitkan adanya gelombang Covid-19 yang kedua, dan seterusnya. “Sudah terjadi kasus awal ketika terjadi new normal juga kita sudah melihat di berita bahwa banyak pasar tradisional yang terjangkit virus corona,” kata Peneliti Edi.

Dirinya mengungkapkan bahwa physical distancing atau pembatasan fisik diklaim sebagai penghenti transmisi Covid-19 yang terbaik, karena physical distancing bisa mengurangi epidemi agar kapasitas perawatan kesehatan yang tersedia mencukupi.

Sebelumnya ada model sederhana suspected infected recovered (SIR) mengikutkan atau memasukkan faktor physical distancing oleh penelitian Eksin, dan kawan-kawan tahun 2019. Jadi, pada Eksin model ada tambahan faktor social distancing yang bisa memetakan transisi dari susceptible state (S) ke infected state (I).

“Oleh karena itu kami mengembangkan quadkopter, alat yang memiliki empat baling-baling untuk deteksi pelanggaran physical distancing di kerumunan. Alat ini akan mempunyai keunggulan yaitu kamera bersifat mobile, kemudian memiliki kemampuan untuk mendeteksi obyek orang, menghitung jumlah obyek orang tersebut dalam kerumunan, serta menghitung jarak antar obyek dalam kerumunan tersebut,” jelas koordinator kelompok penelitian Optoelektronika dan Kontrol.

Selain untuk memantau physical distancing, quadkopter bisa dimanfaatkan aplikasi lain seperti sebagai monitoring lingkungan, kebencanaan, dan maupun monitoring lalu lintas. Dalam kegiatan ini, teknologi kuncinya ada pada teknologi drone (pesawat tanpa awak) berbasis multi-rotor, ground control unit (GCU) atau alat kendali darat, serta fitur kecerdasan buatan.

Secara garis besar sistem mempunyai tiga unit utama: pertama alat kendali darat/ ground control unit (GCU), unit transmisi, dan unit drone atau pesawat tanpa awak . Beberapa parameter dari sensor-sensor yang ada di unit drone tersebut nantinya akan bisa diakses dari ground control secara nirkabel. “Yang utama adalah umpan balik berupa kamera/gambar/video dari kamera unit drone yang nantinya akan diolah di ground control unit ini yang nantinya akan bisa menentukan obyek orang, jumlah obyek orang, kemudian jarak antar obyek orang di dalam kerumunan tersebut,” jelas Edi.

Ada dua aspek utama dalam merealisasikan kegiatan ini. Aspek yang pertama adalah pengembangan perangkat keras yaitu berupa unit drone otonom dan unit ground control. “Unit drone otonom adalah drone dengan tipe quadkopter yang memungkinkan misi terbang secara otonom, sedangkan unit ground control merupakan unit pengendali di daratan untuk hosting perintah terbang dan juga dilengkapi dengan komputer kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terkini untuk pengolahan citra,” terangnya.

Aspek yang kedua adalah pengembangan dan optimasi piranti lunak untuk deteksi obyek orang, menghitung jumlah obyek orang beserta jaraknya. “Eksplorasi deteksi obyek orang dengan beragam pendekatan yang telah kami lakukan yaitu background subtraction, deep learning tanpa dukungan GPU (Graphical Processing Unit), deep learning dengan support GPU, dan deep learning dengan dukungan GPU dan  TensorRT. Optimasi perangkat lunak dengan menggunakan deep learning dengan dukungan GPU dan TensorRT memberikan hasil yang terbaik, baik akurasi deteksi, maupun waktu pemrosesan gambar,” pungkasnya. (har/ ed. adl)