Disable Preloader

Berita

11 November 2019

Peraih LIPI Young Scientiest Award (LYSA) 2019

Serpong, Humas LIPI. Pada gelaran Indonesia Science Expo (ISE) bulan Oktober 2019, Dr. Ahmad Ridwan Tresna Nugraha, M.Sc., S.Si. dianugerahi LIPI Young Scientist Award (LYSA), sebuah penghargaan dari LIPI yang diberikan kepada peneliti muda yang konsisten berkiprah di dunia penelitian tingkat dunia. Pemuda kelahiran Bandung, 20 September 1987 ini merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika - LIPI).

Menempuh pendidikan sarjana pada Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, berhasil diselesaikan pada tahun 2004 hingga 2008 dengan predikat Cum Laude. Kemudian Ridwan, demikian ia biasa dipanggil, menyelesaikan pendidikan master dan doktor pada tahun 2008 hingga 2013 di Tohoku University, Jepang.

Ridwan memiliki minat penelitian fisika teoretis dan komputasi, dengan area penelitian yang cukup luas, terutama dalam ranah fisika material, optika kuantum, dan konversi energi. Penelitian yang sudah dipublikasikan di berbagai jurnal diantaranya terkait dengan material termoelektrik, elektromekanika, optomekanika, serta interaksi cahaya dan material.

Dalam kurun waktu sembilan tahun (2010-2019), Ridwan memublikasikan 41 karya tulis ilmiah bersama para kolaboratornya, yang sebagian besarnya adalah berupa makalah di jurnal internasional bereputasi.  Dua kelompok besar penelitiannya yang kerap dirujuk peneliti lainnya adalah seputar potensi material berdimensi rendah untuk aplikasi termoelektrik, yakni konversi panas menjadi listrik dan teori spektroskopi untuk karakterisasi material.

Peneliti yang rutin bersepeda ke tempat kerjanya ini sangat menekankan penelitian yang kolaboratif sehingga tidak mengherankan jaringan kolaboratornya saat ini berasal lebih dari 10 institusi di dunia, seperti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, hingga Chinese Academy of Sciences di Tiongkok. Kolaborasi domestik saat ini pun mulai dibangun dengan melibatkan mahasiswa Indonesia melalui praktik kerja lapangan dan tugas akhir di LIPI.

Kedepannya, Ridwan berkeinginan menemukan struktur material termoelektrik dan fotovoltaik berefisiensi tinggi, ramah lingkungan, serta melimpah di Indonesia, dengan memanfaatkan teori-teori fisika disertai bantuan komputer. Cita-cita penelitian ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab kepada LIPI serta masyarakat Indonesia. 

Ayah dua orang anak ini mengungkapkan bahwa sekarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) peneliti sangat dituntut agar bisa memberikan kemanfaatan yang luas kepada bangsa Indonesia. Sebagai peneliti fisika teori dan komputasi, yang lebih bersentuhan dengan riset fundamental alih-alih aplikatif, tentunya itu menjadi tantangan tersendiri baginya.

Meskipun penghargaan LYSA cukup prestisius di lingkungan LIPI dan bahkan level nasional, ia menekankan bahwa meraih penghargaan bukanlah cita-cita sebagai seorang peneliti. Seorang peneliti tidak boleh melakukan penelitian hanya untuk mendapatkan penghargaan. Kemanfaatan penelitian yang dirasakan masyarakat mesti menjadi prioritas.

Ridwan merasa tidak layak menerima LYSA ketika mengetahui pengumuman pemenang, karena merasa ada banyak peneliti lain yang mungkin lebih layak, tetapi tidak mendaftarkan diri. Selain itu, pemuda bersahaja ini merasakan penelitiannya belum cukup membumi di Indonesia. 

“Saya sangat berterima kasih kepada LIPI karena telah memilih saya sebagai peraih LYSA 2019. Ini menunjukkan LIPI memberikan apresiasi yang sangat tinggi pada ilmu-ilmu dasar seperti fisika teori dan komputasi, yang kerap mendapat stigma kurang aplikatif di kalangan umum,” tuturnya.

LYSA 2019 bukan satu-satunya penghargaan yang pernah diterimanya. Selama masa studi Ridwan pernah menjadi mahasiswa terbaik tahun pertama ITB di tahun 2005, mahasiswa berprestasi utama Fisika ITB dan peringkat kedua mahasiswa berprestasi utama FMIPA ITB tahun 2007. Pada tahun 2017, ketika masih bekerja sebagai assistant professor di Jepang, ia turut memperoleh Japan Society of Applied Physics (JSAP) paper award bersama kolega mahasiswa dan profesornya dari Tohoku University.

Ridwan tidak akan berhenti melakukan penelitian dengan alasan penghargaan apa pun. Penelitian fundamental yang ditekuninya adalah batu bata peradaban masa depan. Kontribusi sekecil apa pun dalam penelitian teori dan komputasi material diyakininya akan bermanfaat bagi kebaikan umat manusia, entah itu dirasakan langsung saat ini atau pun tidak. (har/ adl)