Disable Preloader

Berita

15 Juni 2020

Riset Covid-19 Fisika dan Kimia – LIPI Tampil di People & Inspiration Berita Satu

Serpong, Humas LIPI. Di masa pandemi ini ada banyak inovasi untuk menyelesaikan berbagai macam permasalahan di bidang kesehatan.  Bertajuk “Lawan COVID-19 dengan Pengetahuan”, program People & Inspiration Berita Satu mewawancarai peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI): Dr. Eng. Deni Shidqi Khaerudini (Puslit Fisika) dan Yati Maryati, M.Si. (Puslit Kimia), juga dr. Theresia Monica R., Sp.AN., KIC., MSi. (Direktur Klinik Utama sekaligus sebagai Dokter Spesialis anestesi) melalui video conference, Sabtu (13/6).

Acara yang dipandu presenter Rolando Sambuaga, Berita Satu meminta para peneliti keren untuk bercerita tentang hasil, proses, dan penelitiannya. Ada yang meneliti tentang penggunaan plasma darah untuk pengobatan pasien Covid-19, membuat masker kain disinfektan, juga minuman penambah daya tahan tubuh.

Tentang penelitian masker kain disinfektan, Peneliti Deni menjelaskan dalam kondisi pandemi Covid-19 ini  masyarakat juga diresahkan. Sekarang pemerintah sudah menerapkan new normal atau aktivitas kebiasaan baru.

Agar masyarakat dapat berkativitas dengan nyaman  tentu harus dilengkapi dengan alat-alat kesehatan termasuk masker. Tetapi untuk masker medis, pemerintah menyarankan untuk digunakan hanya bagi para tenaga medis. Sedangkan untuk masyarakat umum diharapkan menggunakan masker jenis kain yang bisa digunakan berulang (reusable).

Oleh karena itu, Deni dan tim terinspirasi untuk melakukan riset dari masker kain tetapi memiliki kemampuan anti bakterial atau pun memiliki kemampuan seperti masker medis.

“Pada masker lapisan tembaga ada lapisan aktif yang kami sebut sebagai ‘contact killer’, yang nantinya apabila ada bakteri atau virus dalam periode waktu tertentu, dia akan terurai atau dia akan mati,” detil Deni.

Pada perkembangan penelitian masker dan uji selanjutnya akan dilakukan uji aktivitas terhadap anti viral atau anti virusnya. Di mana penelitian akan dilakukan di Laboratorium Biosafety Level-3 (BSL-3) LIPI yang ada di Cibinong.

“Masker kain disinfektor tentu memiliki lapisan aktif dibanding dengan masker kain biasa. Selanjutnya ukuran pori tadi rata-rata jauh lebih kecil dibandingkan dengan masker kain biasa. Karena ukuan pori mengecil tentu peluang virus atau bakteri untuk terhisap atau kemampuan filternya menjadi lebih meningkat,” tambahnya.

Total dari persiapan hingga efektif penelitian adalah sekitar tiga bulan hingga saat ini. Tim pengembang masker kain disinfektor terdiri dari tiga peneliti yang terlibat diantaranya Dr. Eng. Deni Shidqi Kaerudini, Gerald Ensang Timuda, S.Si., M.Eng., dan Swivano Agmal, S.Si.

Selanjutnya, Yati Maryati menjelaskan bahwa penelitian jus jambu merah adalah untuk mendukung penanggulangan pencegah Covid-19. Yati dan tim mengembangkan riset terkait minuman kesehatan melalui teknik fermentasi sebagai upaya untuk pencegahan Covid-19 sebagai kandidat potensial dalam meningkatkan imunitas tubuh.

“Sebelumnya kami juga telah melakukan riset terkait pengembangan pangan fungsional berbasis polifenol untuk pencegahan penyakit regeneratif. Maka, kami melihat bahwa jambu itu memiliki anti oksidan yang tinggi. Begitu pula dengan buah-buahan lainya. Namun, Jambu memiliki anti oksidan yang hampir 90%. Dari situlah kami mengambil riset ini untuk turut serta dalam upaya pencegahan Covid-19,” ungkap Yati Maryati.

“Jus jambu biasa juga sudah memiliki aktivitas anti oksidan yang tinggi, flavonoid yang tinggi, polifenol yang tinggi, namun dengan teknik yang kami gunakan, yaitu teknik fermentasi yang mampu meningkatkan lebih tinggi lagi aktifitas anti oksidan. Penelitian pendahuluan telah kami lakukan di mana dengan berjalannya waktu fermentasi semakin meningkatnya aktifitas anti oksidan, juga polifenol,” papar Yati.

Peneliti Yati juga menjelaskan teknik Fermentasi dan proses pembuatan bagaimana penelitian jus jambu berjalan. Penelitian ini telah dilakukan sejak bulan Maret setelah diketahui adanya kasus pandemi Covid-19 pertama di Indonesia.

Saat ini penelitian pada tahap optimasi dan formulasi untuk mendapatkan kondisi proses yang maksimal atau optimal. Agar dari hasil tersebut benar-benar mampu meningkatkan respons imun ketika diuji in-vitro dan in-vivo.

Peneliti jus jambu merah ini berjumlah tujuh orang dari Keltian kimia pangan dan satu orang dari teknologi proses, yakni Yati Maryati, M.Si., Hakiki Melanie, Ph.D., Hani Mulyani, M. Farm., Setyani Budiari, M.Si., Euis Filailla, Ir. Agustine Susilowati, M.M., Ir. Aspiyanto, dan Adid Adep Dwiamoko, Ph.D.

Selain dua peneliti LIPI, dalam acara People and Inspiration kali ini ada narasumber dr Theresia Monica R. Beliau menjelaskan terapi plasma darah konvalesen (TPK) yang merupakan suatu terapi dengan memindahkan plasma darah dari penderita Covid yang sudah sembuh kemudian dipindahkan ke penderita Covid yang masih sakit. Pada antibodi yang terdapat dalam plasma darah tersebut dapat membantu antibodi pasien Covid-19 yang masih sakit untuk membasmi atau melawan virus Covid-19, sehingga memperbesar kesempatan untuk sembuh. (har/ ed. adl)