Disable Preloader

Berita

09 Februari 2021

Riset Fisika untuk Atasi Limbah Medis Jarum Suntik

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus berupaya memberikan kontribusi untuk penanganan wabah Covid-19. Salah satunya melalui riset alat penghancur jarum suntik. Bambang Widiyatmoko sebagai salah satu inventor alat penghancur jarum suntik (APJS) menjelaskan salah satu limbah medis berbahaya adalah limbah jarum suntik bekas pakai. “Mengapa ini berbahaya, pertama karena jarum suntik itu berbentuk runcing, tajam, bahannya dari stainless steel, ujar Bambang mengawali.

“Kemudian saat digunakan, jarum suntik bisa tertempel bakteri atau virus, oleh karena itu limbah jarum apabila tertusuk pada seseorang bisa berpotensi menularkan penyakit,” lanjutnya pada Talkshow Alat Penghancur Jarum Suntik (APJS) : “Solusi Teknologi untuk Masalah Limbah Medis”, Selasa (9/2).

Peneliti Fisika ini menyampaikan bahwa riset APJS sudah dibuat dari tahun 2008. Sementara riset APJS yang dibuat pada tahun 2020 adalah generasi kedua ketika pandemi Covid-19 merebak. “Kita perlu menangani permasalahan limbah jarum suntik dengan serius,” ujarnya.

Di masa pandemi Covid-19, limbah medis berupa jarum suntik makin meningkat. Penggunaan jarum suntik umumnya digunakan dalam berbagai prosedur medis seperti pengambilan darah, vaksinasi, pemberian infus, dan anestesi. “Pada kondisi normal saja kita banyak mendengar di berita bahwa banyak yang membuang sembarangan bahkan secara massal, untuk itulah kami membuat alat penghancur jarum suntik ini untuk membantu penanganan limbah medis ini,” terang Bambang.

“Sekarang ini sedang digalakkan vaksinasi Covid, satu dosis vaksin itu memerlukan satu jarum. Sementara vaksin Covid membutuhkan dua dosis. Artinya kalau ada 180 juta yang akan divaksin perlu 360 juta dosis dan itu perlu 360 juta jarum dan akan ada 360 juta jarum bekas,” papar peneliti senior tersebut.

Mengenai keamanan limbah jarum suntik yang keluar alat ini, Bambang bisa menjamin bahwa limbahnya sudah higienis. “Terkait bagian metalnya, setelah proses penghancuran di APJS, hasilnya sudah higienis, tidak ada bakteri yang masih hidup, dan sudah kami uji pada tahun 2009 dengan hasil mendapatkan sertifikat,” ungkap peneliti bidang Optoelektronika dan Kontrol.

Kemudian, setelah limbah jarum suntik ini teruji steril, maka limbah yang berjenis metal ini bisa didaur ulang kembali (recycle). Sementara untuk plastiknya, yang berpotensi juga untuk didaur ulang, tentunya harus ada proses lain lagi seperti dengan mencuci dengan cairan tertentu seperti sabun atau zat yang bisa mensterilkan bagian plastiknya. Dengan begitu potensi ekonominya bisa lebih tinggi dari pada bagian metalnya,” tegas lulusan Tokyo Institute of Technology ini.

Keunggulan dari APJS generasi dua ini adalah kompak dan mudah dipakai, limbah higienis dari kuman penyakit, konsumsi listrik sangat rendah, mudah dalam perawatan, dan harga lebih murah dan awet. Bagi pihak mitra industri dan masyarakat yang ingin mengembangkan dan memanfaatkan hasil riset LIPI APJS generasi dua ini, bisa menghubungi Pusat Pemanfaatan IPTEK dan Inovasi (PPII) LIPI. PPII berperan sebagai fasilitator hasil-hasil riset LIPI sepertidari perlindungan HAKI hingga komersialisasi atau dapat dilisensikan atau dimanfaatkan oleh industri atau masyarakat, dan kerja sama lisensi.

Sebagai informasi, panelis yang turut hadir dalam acara talkshow yang digagas oleh PPII LIPI ini adalah Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, R. Vensya Sitohang, Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Achmad Gunawan Widjaksono, Ketua SubBidang Penanganan Limbah Medis Satuan Tugas Penanganan Covid 19 Nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Lia G. Partakusuma, serta Theresia Ningsi Astuti, Koordinator Alih Teknologi dan Inovasi Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK LIPI. Acara ini dipandu oleh pembawa acara Ika Fitriana Hapsari dan Pradhini Digdoyo selaku moderator dari PPII LIPI.

(adl, hrd)