Disable Preloader

Berita

06 Oktober 2020

Serba-Serbi Pembuatan Grafik dalam Artikel Ilmiah

Serpong, Humas LIPI. Pusat Penelitian Fisika – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika – LIPI) menyelenggarakan Kolokium Fisika Daring dengan judul “Serba-Serbi Pembuatan Grafik dalam Artikel Ilmiah " oleh Ahmad Ridwan Tresna Nugraha dari P2 Fisika, Selasa (6/10). Mengapa begitu penting tampilan yang menarik. Alasan utamanya adalah a picture speaks a thousand words. Satu gambar bisa merepresentasikan banyak makna yang disampaikan dalam artikel ilmiah.

Ahmad Ridwan Tresna Nugraha membagikan pengalaman tentang pembuatan gambar-gambar berkualitas dalam mempublikasikan jurnal ilmiah. “Gambar yang menarik dapat memperjelas hasil penelitian kita, sehingga datanya bisa dipahami oleh orang lain,” ujar Ridwan panggilan akrabnya.

Penggunaan grafik dan ilustrasi yang atraktif sangat penting diperhatikan agar inti hasil penelitian dapat tersampaikan dengan baik kepada pembaca. Beberapa jurnal internasional bahkan mengapresiasi gambar-gambar berkualitas tinggi dengan menempatkannya di sampul jurnal maupun di halaman khusus situs web jurnal tersebut.

“Dalam membuat gambar disesuaikan dengan standar yang diminta oleh jurnal serta juga kelaziman dari komunitas ilmiah yang kita ikuti. Tetapi sebenarnya secara umum, aturan dalam membuat grafik atau gambar di dalam artikel ilmiah itu tidak beda-beda jauh amat,” jelasnya.

Ridwan menyarakan pembuatan gambar dalam jurnal, yang penting jelas sumbunya, garisnya, bentuknya seperti apa, hingga pilihan warna. Pilihan warna yang ramah kepada pembaca, sehingga pembaca dari banyak kalangan bisa tertarik dengan makalah kita karena pembaca ada yang memiliki keterbatasan dalam warna.

Dalam membuat gambar yang baik pada umumnya, jurnal menggunakan standar yang sama, namun pada jurnal tertentu ada standar khusus yang kita harus menyesuaikan dengan jurnalnya masing-masing. Misalkan bidang fisika adalah physical review, american physical society, atau bidang kimia adalah american chemical society.

Seperti pilihan warna juga label sumbu, ukuran dan jenis huruf yang konsisten serta jelas terbaca seperti Sans-serif (Helvetica atau Arial biasanya lebih disukai) karena media yang umum digunakan adalah laptop atau smartphone.

Ketika membuat gambar, pertimbangkan juga menggunakan konsep golden ratio atau perkiraan proporsi yang sesuai untuk setiap ilustrasi. Golden ratio terkait dengan rasio di antara dua buah dimensi horizontal atau pun vertikal yang memenuhi 1,618. Seperti desain bangunan atau lukisan, mesti memenuhi dan mempertimbangkan aspek golden ratio.

Ada beragam perangkat lunak yang dapat digunakan untuk membuat ilustrasi seperti plot 2D (Gnuplot, Grace/Xmgr), plot 3D dan animasi (Gnuplot, ImageMagick, Jmol dan POV-Ray), atau pun pengolah gambar (Inkscape).

Ridwan menjelaskan bahwa diperlukan juga kehati-hatian. Penggunaan perangkat lunak pengolah gambar secara berlebihan dapat mengamburkan makna data ilmiah dari gambar.

“Jangan pernah sedikit pun di kepala kita, di hati kita, menggunakan perangkat lunak yang tersedia kemudian terjerumus untuk memanipulasi gambar berlebihan. Kalau sekedar mengganti kecerahannya, warna, kemudian tebal tipis dari garis, teksnya diperbaiki itu sangat disarankan,” pesan peneliti dari grup Teori dan Komputasi Material Fisika LIPI. (har/ ed. adl)