Disable Preloader

Berita

21 Februari 2020

Talkshow Menjadi Peneliti Menginspirasi yang Berinovasi Tanpa Henti (21 Februari 2020)

Humas, LIPI Serpong. Peneliti merupakan salah satu fungsional aparatur sipil Negara (ASN) yang ada di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). LIPI sebagai lembaga penelitian dengan sumber daya manusia (SDM) ASN peneliti yang besar, memerlukan langkah-langkah terobosan dalam pengembangan SDM di bidang terkait riset, teknologi dan inovasi (RISTEKIN). Bidang RISTEKIN merupakan modal utama untuk pengembangan bidang lainnya, seperti pertanian, perikanan, industri, dan perdagangan. Sebagai langkah awal menjembatani terobosan pembinaan peneliti, pada Jumat, (21/2), Kedeputian Ilmu Pegetahuan Teknik LIPI menyelenggarakan acara Talkshow Menjadi Peneliti 4.0 bertajuk “Menjadi Peneliti Menginspirasi yang Berinovasi Tanpa Henti”, di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan.

Acara yang mengundang tokoh-tokoh peneliti berkualitas ini menjadi program inisiasi pembinaan karir ASN peneliti di LIPI. Dalam sambutannya, Deputi IPT LIPI, Agus Haryono menyampaikan perlu adanya pembimbingan dari manajemen untuk memunculkan proses pengembangan SDM agar tercipta peneliti yang unggul dan berkarakter. “LIPI akan bekerjasama dengan Himpenindo (Himpunan Peneliti Indonesia) untuk membuat semacam peta jalan bagi para peneliti,” jelasnya.

Sebagai sumber inspirasi bagi para peneliti LIPI, hadir sebagai pembicara di sesi pertama, Bambang Widiyatmoko (peneliti senior LIPI peraih Habibie Award), Ajeng Arum Sari (peneliti muda, Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI), dan M. Ikhlasul Amal (peneliti muda, anggota Perencanaan, Monitoring, Evaluasi/PME Kedeputian IPT LIPI). Sesi dengan pembicara dari tiga generasi ini dimoderatori oleh Teni Ernawati dari Pusat Penelitian Kimia LIPI.

Bambang menyampaikan topik Science quality: Delivering Impactful Research. Menjadi seorang peneliti harus meluruskan niat, memilih area penelitian baru, memiliki spesifikasi, bekerja sesuai aturan dan menjauhkan diri dari kepentingan pribadi yang melanggar aturan. “Lakukan penelitian secara kontinyu, serius dengan penuh keyakinan, karena tantangan menjadi seorang peneliti seperti yang terkutip di lirik lagu himne LIPI, ‘bagaikan meniti buih’,” ujarnya.

Pembicara kedua, Ajeng mempresentasikan topik Communication in Science: How to Effectively Deliver Research Results to Community?. Bagaimana pentingnya membangun komunikasi yang efektif untuk memasyarakatkan hasil riset. Peneliti harus mampu melakukan komunikasi sains, misalnya berkolaborasi dengan BKHH (Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat) dan BIT (Balai Informasi Teknologi) LIPI, agar hasil penelitiannya terpublikasi ke masyarakat. Diperlukan usaha dari peneliti untuk bisa membuat video kegiatan penelitian kemudian mengunggahnya ke media sosial. “Seorang peneliti harus percaya diri bahwa penelitiannya layak untuk dipublikasikan ke masyarakat,” ungkapnya.

Ikhlasul Amal selaku pembicara ketiga membagikan tips serta teknik merancang kolaborasi multidisiplin dan lintas negara dalam topik Science leadership: Managing Outstanding Research Collaboration. Pemilik 60 publikasi internasional dan 10 paten ini menyampaikan lima keahlian dalam kepemimpinan yang esensial yakni komunikasi, kreativitas, motivasi, feedback dan positivity. “Kelima hal ini harus dikembangkan agar terbentuk science leadership yang unggul,” jelas Diplomat Sains ASEAN 2019 tersebut.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, selaku keynote speaker menyampaikan perlu ada pemisahan tugas antara manajerial dan penelitian. Tugas manajemen, menurut Handoko adalah memfasilitasi peneliti supaya bisa berkreasi sesuai bidangnya. Sementara peneliti harus berfokus pada bagaimana mencapai target sesuai bidang dan minatnya sehingga terbangun kompetensi yang baik. “Dengan fokus, akan tercipta excellency masing-masing individu pada berbagai bidang, sehingga mampu menjadi pionir riset tangguh yang dapat merepresentasikan bangsa di kancah global,” jelasnya.

Kepala LIPI menambahkan bahwa dalam kegiatan riset, hasil bukanlah yang utama, tetapi lebih mengutamakan proses. “Kontribusi riset bukan hasilnya, namun 90% kontribusi riset adalah pada prosesnya, diharapkan kita dapat berkontribusi menciptakan agen-agen perubahan yang kompeten,” ujar Handoko.

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan penjelasan tentang program pembinaan karir ASN peneliti di Himpenindo yang disampaikan oleh Agus Fanar Syukri (peneliti senior, Dewan Pengawas Pengurus Pusat Himpenindo) dan strategi pembinaan karir ASN kepenelitian yang dipaparkan oleh Wahyu Bambang Widayatno (peneliti muda, PME Kedeputian IPT LIPI). Sesi yang dimoderatori Agus Sukarto Wismogroho dari Pusat Penelitian Fisika ini diakhiri dengan diskusi interaktif bersama Agus Haryono (Deputi IPT LIPI) guna mendapatkan ide dan masukan untuk mengembangkan kegiatan pembinaan karir ASN peneliti LIPI yang akan disenggarakan Kedeputian IPT LIPI.

Deputi IPT LIPI berharap dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada para ASN muda untuk terus berinovasi dalam meniti karir di dunia penelitian. “Talkshow ini menjadi dobrakan awal dalam rangkaian kegiatan pembinaan karir, agar menjadi ASN yang cemerlang di bidang penelitian,” tutupnya. 

Dalam acara talkshow ini diadakan pula pemberian award bagi peneliti terbaik LIPI tahun 2019 yang dianugerahkan kepada Isnaeni (bidang Fisika), Muhammad Ghozali (bidang Kimia), Thalita Asmaria (bidang Metalurgi & Material), dan R. Harry Harjadi (bidang Teknologi Pengujian). (nh/ ed. adl)