Disable Preloader

Berita

02 Juli 2021

Teknologi InSAR untuk Monitoring Gempa Bumi

Serpong, Humas LIPI. Frekuensi gempa di Indonesia yang fluktuatif, membuat kegiatan monitoring gempa bumi menjadi sangat penting. Hal itu untuk mengurangi risiko yang diakibatkan oleh bencana gempa bumi. Melalui kelompok penelitian Fisika Sistem Kompleks, Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mempelajari proses dinamika bumi dengan memanfaatkan dasar-dasar ilmu fisika. Salah satunya riset mengenai penerapan teknologi InSAR dalam monitoring deformasi pada permukaan bumi akibat gempa bumi.

InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) merupakan suatu teknik penginderaan jauh, untuk mengamati perubahan permukaan tanah menggunakan menggunakan citra, dari satelit radar yang didapatkan dari satelit yang mengorbit bumi. “Satelit radar memancarkan gelombang radar yang kemudian dipantulkan oleh permukaan bumi, dan diterima kembali oleh sensor yang ada di satelit tersebut,” jelas Titi Anggono, peneliti dari Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dirinya menjelaskan bahwa di dalam InSAR, dua citra satelit radar dari area yang sama di-sampling pada periode waktu yang berbeda kemudian dibandingkan satu sama lain. “Gelombang radar yang dipancarkan tidak terpengaruh oleh awan sehingga cukup efektif dalam memonitor pergerakan permukaan tanah secara kontinu akibat proses geologi ataupun yang lainnya,” ujar Titi Anggono,

Menurutnya, gelombang radar yang dipancarkan oleh satelit  tersebut memiliki dua jenis informasi yang disebut amplitudo dan fasa. “Amplitudo yang terekam dipengaruhi oleh jenis atau parameter fisis dari permukaan bumi, misalnya air, batu, ataupun tanah lempung bisa memberikan amplitudo yang berbeda. Sedangkan perubahan fasa dipengaruhi oleh perubahan ketinggian muka permukaan bumi, perubahan waktu tempuh dari gelombang radar. Kedua jenis informasi ini yang akan menjadi data bagi InSAR untuk mengamati deformasi,” jelas peneliti Fisika Sistem Kompleks tersebut.

Deformasi pada kerak bumi yang oleh Titi dan tim amati, merupakan salah satu parameter yang cukup penting dalam pengamatan proses gempa. “Dengan melakukan proses inversi dari pengamatan deformasi, kita bisa mengetahui proses atau dinamika gempa bumi yang terjadi,” ucapnya.

Melalui penelitian ini, dirinya berharap dapat membantu perkembangan penelitian terkait mitigasi bencana khususnya yang terkait gempa bumi dengan menggunakan teknologi remote sensing. “InSAR memberikan keuntungan dalam proses pengamatan atau monitoring deformasi antara lain memberikan resolusi yang tinggi untuk daerah yang cukup luas, kemampuan untuk melakukan pengamatan pada daerah yang sulit untuk dijangkau, dan sensitif terhadap perubahan secara vertikal,” pungkasnya. (whp/ ed. adl)