Disable Preloader

Berita

24 Juni 2021

Teknologi Monitoring Lahan Gambut LIPI

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Fisika (P2 Fisika) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Albert Sulaiman dan tim mengembangkan Teknologi Monitoring dan Modeling Hidrologi Gambut. LIPI mengembangkan teknologi  keseimbangan air (water balance) selain curah hujan, kelembaban tanah, dan tinggi permukaan gambut, juga penguapan air dan air yang tersimpan di pohon. “Disamping itu juga mengembangkan sistem bagaimana memantau air gambut untuk daerah yang ada di luar dengan menggunakan data-data dari satelit,” ungkap Albert pada acara dialog To The Point, Radio RRI Pro 3, Minggu, (20/6).

Albert menjelaskan bahwa lahan gambut itu salah satu fungsinya adalah menyimpan karbon. “Apabila karbon tersimpan di lahan gambut, maka tidak keluar di atmosfer yang menjadi sumber pemanasan global,” jelasnya. “Di samping itu, lahan gambut banyak mengandung air yang menjadi tempat banyak kehidupan terutama di Indonesia,” imbuhnya.

“Daerah di Indonesia umumnya terletak di pesisir sebagai penyeimbang yang dinamakan siklus hidrologi. Jadi selama gambut itu selalu berair maka akan selalu banyak awan sehingga akan ada hujan,” ujar Peneliti Kelompok Penelitian Fisika Sistem Kompleks.

Dirinya mengungkapkan bahwa awalnya teknologi monitoring untuk gambut datang dari Jepang. “Alat yang bernama Sesame itu yang diterapkan BRG  (badan restorasi gambut)saat ini, bentuknya adalah water table yang mengukur curah hujan, kelembaban tanah, dan tinggi permukaan gambut,” ujarnya.

“Di LIPI, alat yang dikembangkan oleh peneliti Fisika LIPI, Sensus, dapat menerapkan teknologi water balance, yang lebih banyak parameter yang diukur. Teknologi tersebut bisa menghitung keseimbangan air (water balance). Jadi menghitung air mulai dari air yang masuk, air yang tersimpan dari tumbuh-tumbuhan itu semua bisa diukur,” urai Albert.

“Dengan menghitung keseimbangan air, maka kita mengetahui air yang masuk dan air yang keluar itu berapa. Dari situ kita gunakan untuk memanajemen mengatur gambut itu,” lanjut Albert.

“Kalau tidak seimbang, kalau kebanyakan air akan banjir. Begitu kurang air maka gambut mulai mengering, maka mudah terbakar. Begitu lahan gambut terbakar maka sulit dipadamkan,” imbuhnya.

Albert menjelaskan bahwa alat ini seperti sensor yang ditanam di dalam tanah, ada sensor yang ditaruh di pohon, dan sensor yang ditaruh di permukaan tanah untuk curah hujan.

Untuk sistem kerjanya, alat itu mengirimkan data melalui GFM, kemudian diterima di sistem monitoring dalam bentuk situs web. “Data yang didapat langsung tekoneksi dengan internet dan dapat di monitor di layar komputer maupun di telepon pintar,” jelasnya.

Lulusan program doktoral dari Jepang ini menjabarkan bahwa pada lahan gambut memiliki sistem gambut yang bernama KHG (kesatuan hidrologi gambut). “Satu sistem KHG itu memerlurkan minimal 3-4 alat yang kita pasang agar representatif. Di Indonesia terdiri dari 1.000 lebih KHG. Saat ini pemerintah mendirikan yang namanya badan restorasi gambut (BRG) dan itu merupakan salat satu langkah penting dan mereka saat ini juga memasang sekitar 150 alat,” urainya.

“Sebanyak 150 alat ini ditempatkan di wilayah atau KHG yang dahulu bekas terbakar. Karena KHG berkewajiban untuk merestorasi gambut da saya juga terlibat di dalam merestorasi gambut. Seperti di Kalimantan Tengah, Kalimatan Barat, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi,” terangnya.

Sebagai penutup, Albert mengatakan bahwa kita tidak bisa melawan alam, tetapi kita harus memanfaatkan alam juga. “Jadi kita harus bekerja bersama-sama dengan alam,” tegasnya.

Untuk lahan ngambut, bangsa Indonesia sejak zaman dulu kala sudah mempunyai kearifan lokal yang mengelola alam Indonesia. “Seperti orang-orang dayak di Kalimantan bisa mengelola gambut dengan baik. Intinya tidak serakah dan bersahabat dengan alam. Itu yang harus kita tiru,” ajak Albert. (hrd/ ed. adl)