Disable Preloader

Berita

08 Mei 2020

Tingkatkan Kolaborasi Riset dengan Jepang, Kedeputian Teknik dan Kebumian LIPI Selenggarakan Webinar Pembinaan Reformasi Birokrasi Kedua

Serpong, Humas LIPI. Kedeputian Bidang Ilmu Pegetahuan Teknik (IPT) dan Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan Webinar Kedeputian IPT - IPK LIPI: Seri Pembinaan Reformasi Birokrasi  - 2, pada Jumat (8/5). Dalam webinar ini hadir empat narasumber, yaitu Agus Sukarto Wismogroho (Puslit Fisika - LIPI), Danang Waluyo (Balai Bioteknologi - BPPT), A’an Johan Wahyudi (Puslit Oseanografi - LIPI), dan Agus Fanar Syukri (Puslit Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi  – LIPI). Sebagai pemandu jalannya acara, peneliti Puslit Informatika – LIPI, Didi Rosiyadi dan peneliti dari Puslit Kimia – LIPI, Hafiizh Prasetia, bertindak sebagai moderator.

Webinar seri pembinaan refrormasi birokrasi ini sebagian besar diikuti oleh sivitas ASN di kedeputian IPT dan IPK – LIPI . Dalam sambutannya, Deputi IPT/Plt. Deputi IPK, Agus Haryono menyampaikan bahwa pertemuan ini sangat penting. Bagaimana caranya memanfaatkan jejaring, kolaborasi, berkomunikasi dengan pihak eksternal, terutama dalam lingkup kerja sama dengan pihak Jepang.

“Pemateri menyampaikan bagaimana kiat-kiat mendapatkan hibah, kiat-kiat berkomunikasi, pengalaman belajar di Jepang, serta bagaimana peneliti bisa memperkuat jejaringnya, baik itu melalui studi, maupun program pasca-doktoral,” ujar Agus.

Pimpinan LIPI melalui peraturan LIPI, terus mendorong seluruh peneliti yang sudah S3 untuk dapat melanjutkan ke pasca-doktoral. Salah satunya bertujuan untuk memperkuat jaringan dan kolaborasi dengan pihak eksternal.

“Kolaborasi ini sangat penting, karena jika berkerja sendiri maka ilmu yang didapat hanya ilmu milik sendiri, tetapi jika berkolaborasi dengan berbagai pihak eksternal, maka ilmu yang dimiliki menjadi semakin berkembang, batas jejaring yang juga akan semakin besar, kemudian potensi untuk mendapat anggaran eksternal juga semakin besar,” lanjut Deputi.

Pembicara pertama, Agus Sukarto menyampaikan seni memperbanyak jejaring. Beliau berbagi pengalaman di berbagai negara dalam kerja sama riset Indonesia, baik dengan industri maupun institusi penelitian.

“Penelitian kita harus mempunyai dampak yang signifikan, sedangkan penelitian kita terkotak-kotak ada yang dasar, terapan, implementasi, terpisah-pisah, maka perlu adanya sebuah kolaborasi diantara masing-masing bagian,” terang Agus Sukarto.

Agus Sukarto berkata bahwa saat ini peneliti dituntut agar riset indonesia menjadi lebih berdampak. Kalau melakukan penelitian sendiri hasilnya sebatas yang biasa kita dilakukan sendiri. Oleh karena itu, peneliti perlu mengekspansi batas-batas melebihi dari yang biasa dilakukan. Kapasitas diri dikombinasikan dengan kompetensi-kompetensi yang lain sehingga kegiatan penelitian bisa menjadi berwarna.

Dalam meningkatkan kemampuan dalam berkolaborasi, bisa dengan silaturahmi di pertemuan formal maupun informal. Dengan teman-teman yang ada, lalu meningkatkan intensitas dan kesepahaman, melalui berbagi fasilitas penelitian untuk digunakan dalam riset bersama.

Selanjutnya, para peneliti saling memaksimalkan kompetensi, diantaranya berbagi manfaat, pengembangan ide, hingga membentuk jejaring lengkap yang memunculkan potensi-potensi yang bisa mendorong ide ke tahap berikutnya, yaitu tahap implementasi. Kemudian bisa bertemu dengan industri dari Jepang atau pun negara lain dalam memperluas area-area kerja sama.

Pembicara kedua, Danang Waluyo menjelaskan bagaimana berpartner dengan Jepang. Menurutnya, agar peneliti Indonesia bisa setara dengan partner di Jepang, maka perlu dengan peningkatan kapasitas.

Dalam mendapatkan hibah penelitian Jepang, dapat disampaikan ke institusi Jepang seperti program SATREPS. Danang menyarankan perlunya menyediakan counter budget walaupun sedikit, untuk menunjukkan adanya dukungan dari pemerintah Indonesia. Prosesnya dimulai melalui proposal, persiapan proyek, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi.

Sebagai peneliti, sangat penting mengetahui apa kelebihan dan kekurangan dari rencana penelitian yang akan diangkat. Sebaiknya, topik penelitian bersifat lokal yang memang dirasakan dampaknya oleh masyarakat Indonesia juga oleh global, seperti penanganan malaria.

Pihak Jepang melalui JICA dalam proyek SATREPS senang jika proyek penelitian Indonesia bisa terhubung dengan proyek lainnya di dunia. “Oleh karena itu, peneliti perlu memperhatikan peran masing-masing institut dalam rangka kolaborasi dengan institut lain,” jelas Danang.

Pembicara ketiga A’an Johan Wahyudi banyak faktor-faktor  yang mempengaruhi perjalanan studi doktoral. Pertama, harus mempunyai rencana riset dan artikel selama studi doktoral maupun pasca-doktoral. Kedua perlunya biaya, baik itu dari beasiswa, orang tua, pekerjaan paruh waktu, dan sebagainya. Ketiga, adanya pembimbing riset. Keempat, pengorbanan, bisa berkorban meninggalkan keluarga di tanah air atau dengan membawa serta keluarga ke lokasi studi. Kelima, yang menentukan adalah faktor Tuhan dalam mempengaruhi ketahanan seseorang dalam studi.

A’an menyampaikan untuk memulai sebuah penelitian harus terbiasa melakukan pengamatan. Sebelum melihat lebih detail, mencapai goal penelitian yang lebih jauh, harus dibangun dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. “Hal itu tidak hanya berlaku pada dunia penelitian, tetapi juga berlaku pada kehidupan,” kata A’an mengikuti ucapan pembimbingnya.

Pembimbing A’an berpesan bahwa integritas seseorang ditentukan oleh ketulusan, kehati-hatian, kejujuran, dan kepatuhan pada aturan. Setiap orang harus membuka pikiran, agar menjadi pribadi yang memang layak untuk diajar.

Pembimbingnya juga menasihati agar setelah selesai sekolah jangan selamanya di luar negeri, melainkan harus kembali ke Indonesia. Demi mengabdikan ilmu di Indonesia, karena kemampuan selama di belajar di luar negeri akan sangat berguna di LIPI dan lainnya. Hal itu akan lebih banyak bermanfaat bagi banyak orang. “Kalau ingin tinggal di sini, belajar setahun-dua tahun untuk pasca-doktoral tidak masalah, tetapi Anda harus segera kembali ke Indonesia,” ungkap A’an.

Saat menyelesaikan doktoral atau pasca doktoral, tugas peneliti tidak menjadi selesai, melainkan menjadi titik awal yang lain. Usai menyelesaikan satu tugas, kemudian berpindah ke tugas yang lain. 

Pembicara keempat, Agus Fanar Syukri, menjelaskan secara gamblang tentang watak orang Jepang. Salah satu prinsip budaya Jepang yaitu uchi (dalam/internal) dan soto (luar/eksternal), sehingga merupakan kebiasaan orang Jepang membedakan grup dalam atau grup luar. “Jika kita sudah masuk menjadi grup dalam, kita akan menjadi keluarga bahkan lebih dari keluarga,” jelas Agus Fanar.

Sebagai peneliti, Agus menceritakan agar bisa bekerja sama dengan orang Jepang, mesti ada hal-hal yang harus dilakukan. Diawali dengan perkenalan diri yang baik, pada acara formal maupun informal. Dilanjutkan dengan menjalin komunikasi serta melakukan kebiasaan orang Jepang sehari-hari seperti memberikan salam, membungkukkan badan, membawakan oleh-oleh, dan tepat waktu. Kemudian senantiasa menjaga kepercayaan dan terus berkolaborasi dengan mitra yang dimiliki.

Terakhir, untuk menyusun proposal penelitian, terapkan latar belakang, masalah, ide, dan kesimpulan. Empat konsep tersebut selalu digunakan dalam penulisan ilmiah, proposal, lagu, dan apa pun yang dilakukan orang Jepang. (har/ ed. adl)