LIPI Teliti Cara Olah Limbah Tahu

Peneliti utama Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Neni Sintawardani mengatakan, penelitian yang dilakukannya terhadap RW 07 di Kampung Warung Muncang, Cibuntu, Bandung selama satu tahun.

Saya sebagai peneliti utamanya. Saya melibatkan mahasiswa Poltekes Bandung dan Nanyang Technology University dari Singapura, katanya ketika ditemui Tribun, Kamis (9/2) pagi.

Solusi Biogas untuk Cibuntu

Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan alternatif solusi untuk mengatasi limbah tahu di wilayah industri tahu Cibuntu Kota Bandung. Kajian tentang masalah itu telah dilakukan dalam dua tahun terakhir oleh Puslit Fisika LIPI bekerjasama dengan Nanyang Technology University (NTU) Singapura dan Politeknik Kesehatan Bandung.

Pemanfaatan energi biogas adalah salah satu usulan yang diberikan LIPI untuk diterapkan di Cibuntu. Usulan itu belum dapat direalisasikan karena butuh dukungan dari segenap masyarakat Cibuntu serta pemerintah daerah setempat.

Waspada, Bandung Bakal Banjir Limbah Air Tahu

Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Dr. Neni Sintawardani menengarai, limbah air tahu menyebabkan air di daerah Pasir Koja, Bandung menjadi bau. Sebabnya, limbah air tahu memiliki tingkat keasaman dan kandungan polutan yang tinggi.

Air Bersih dan Layak Minum untuk Korban Banjir

Jebolnya tanggul sungai Cidurian menyebabkan bencana banjir melanda kecamatan Kresek, Gunung Kaler, Mekarbaru, dan Krojo di Provinsi Banten. Tiga desa di kecamatan Kresek merupakan daerah yang terparah, meliputi desa Patrasana, Pasi Ampu, dan Koper.

LIPI Cari Solusi Pengolahan Limbah Tahu

Peneliti utama Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Neni Sintawardani mengatakan, kasus Cibuntu hanya sepenggal potret saja. Sebab di Bandung, ada sekitar 509 perajin tahu dengan skala produksi yang bervariasi. Dari skala 15 kilogram biji kedelai per hari sampai dengan skala 7,5 ton biji kedelai per hari.

Dengan perhitungan kasar saja, Bandung diperkirakan dibanjiri 16,8 juta meter kubik limbah cair yang asam dan pekat per tahun. Limbah tersebut tentu saja menghadirkan masalah, tetapi sekaligus membawa potensi pemanfaatannya melalui teknologi yang tepat, katanya.

Enam Perempuan Indonesia Raih FWIS

Sebanyak empat perempuan peneliti Indonesia mendapat penghargaan dari PT L'Oreal Indonesia dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KNIU Kemendikbud) sebagai Fellows L'Oreal-UNESCO for Women In Science (FWIS) National 2012.

Direktur Utama PT L'Oreal Indonesia, Vismay Sharma dalam keterangan persnya yang diterima hari ini mengatakan, penghargaan ilmiah ini diberikan setiap tahun kepada perempuan peneliti muda Indonesia yang penelitiannya dinilai sangat berpotensi untuk memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan sains dan pembangunan.

Pages