NANOTEKNOLOGI, Aplikasi Ditujukan ke Industri Pangan

Jakarta, Kompas - Pengembangan nanoteknologi untuk bidang industri manufaktur di Tanah Air masih tersendat. Masyarakat Nanoteknologi Indonesia sekarang mengalihkan aplikasi nanoteknologi ke bidang pangan atau pertanian.

Sudah didefinisikan sekitar 10 bidang pengembangan nanoteknologi untuk industri pangan atau pertanian, kata Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) Nurul Taufiqu Rochman, Selasa (13/4) di Jakarta.

Menurut Nurul, bidang pengembangan untuk industri pangan itu meliputi pengolahan pangan diperkaya kandungan gizi dan vitamin dengan nanoteknologi. Pengembangan nanoteknologi antara lain untuk sensor pengawetan bahan makanan dan sensor kemasan bahan makanan dari kandungan bahan lain yang tidak diinginkan.

Di bidang produksi pertanian, Nurul mengatakan, aplikasi nanoteknologi bisa untuk meningkatkan efisiensi pupuk. Aplikasi lainnya untuk sensor produksi pertanian presisi, misalnya untuk mendeteksi kandungan tingkat keasaman tanah pertanian.

Banyak bahan makanan kita yang kandungan gizinya kurang. Peran nanoteknologi di bidang pangan memiliki peluang yang lebih tinggi dibandingkan pada bidang industri manufaktur atau material, kata Nurul.

Saat ini diperkirakan ada 200 doktor di bidang nanoteknologi. Namun, ujar Nurul, kebanyakan menekuni bidang material dan masih jarang yang menekuni pengembangan nanoteknologi untuk pangan.

Sebetulnya tidak terlalu sulit untuk menggeser keahlian nanoteknologi dari bidang material ke bidang pangan, kata Nurul.

Kepala Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto mengatakan, LIPI sudah memiliki teknologi pembuat ukuran nano, yaitu satu persepuluh pangkat sembilan meter. Aplikasinya bisa untuk berbagai bidang, seperti untuk bidang material ataupun bidang pangan.

Hasil riset bionanomaterial dari LIPI adalah menggunakan serat bambu untuk keperluan interior mobil, kata Bambang.

Menurut dia, bionanomaterial itu pada intinya proses pembuatan bahan yang ringan dan kuat. Bionanomaterial dari serat bambu untuk bahan interior mobil sedang diupayakan aplikasinya dengan menggandeng industri otomotif terkenal dari Jepang. Aplikasi teknologi pembuat ukuran nano ini juga bisa untuk menunjang industri pangan, kata Bambang.

Nurul mengatakan, aplikasi nanoteknologi ke bidang industri manufaktur perlu modal besar. Padahal, industri manufaktur di Tanah Air banyak yang bertumpu pada industri padat karya.

Pengalihan nanoteknologi ke industri pangan atau pertanian sendiri baru dimulai sekarang. Kalau bisa dilaksanakan, akan memiliki imbas yang besar, kata Nurul. (NAW)

Kompas, 14 Januari 2010

Tahun : 

2010